Hal itu disampaikan sejumlah pembicara dalam Sekolah Kepemimpinan Politik dan Kebangsaan di Unmuh Jember, Sabtu (10/9) lalu. Agenda akbar itu melibatkan sedikitnya 500 anggota Muhammadiyah yang berasal dari pimpinan daerah, Aisyiyah, organisasi otonom, hingga ranting, dan kepala sekolah Muhammadiyah se-Jember.
Mengusung tema “Merajut Persatuan, Menebar Kesejahteraan, Menyiapkan Pemimpin yang Mencerahkan”, forum itu diisi sejumlah tokoh. Di antaranya Bupati Jember Hendy Siswanto. Hendy saat itu mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai sarana menyiapkan kader unggul di masa depan. Menurutnya, Muhammadiyah sebagai etalase Jember merupakan bagian dari Kabupaten Jember yang bertugas untuk kemaslahatan umat dan masyarakat. "Kalau dakwah di-packaging dan dimasukkan ke politik, maka akan sangat maslahat dan mem-branding orang menjadi politikus yang bermanfaat," kata Bupati Jember Hendy Siswanto yang juga menjadi keynote speaker dalam Sekolah Kepemimpinan Politik dan Kebangsaan tersebut.
Selain bupati, turut hadir pula Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Dr H M Busyro Muqqodas. Busyro menyampaikan mengenai kedudukan mahasiswa dan akademisi sebagai garda terdepan melawan korupsi. Menurutnya, keduanya merupakan satu-satunya pilihan moral pembebasan rakyat dari dampak mematikan kejahatan korupsi dan kebohongan struktural.
Busyro juga menjelaskan, beragam ketimpangan yang ada di masyarakat tidak lepas dari dampak kejahatan percaturan politik di negeri ini. Ia menyebutnya sebagai kejahatan bandit politik yang tidak bisa berpihak pada nurani rakyat. "Mereka para penikmat jabatan, hasil mengeksploitasi rakyat yang diperlakukan sebagai ‘sapi perah politik’ dan pemilu-pilkada berbasis suap atau risywah yang haram itu," tegas Busyro.
Sementara itu, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim Prof Achmad Jainuri menguraikan tak jauh berbeda. Menurutnya, kekuasaan dan politik kepemimpinan mempunyai kaitan satu sama lain. Sebab, kekuasaan diperoleh melalui proses politik seperti penunjukan, pengangkatan, dan keterlibatan orang banyak. "Kekuasaan adalah terminal untuk mencapai tujuan utama, yakni terciptanya kehidupan masyarakat adil, sejahtera, dan diridai oleh Allah SWT," kata Prof Achmad.
Dia menilai, politik merupakan proses menciptakan tatanan sosial yang baik. Ditempuh melalui kontrol terhadap sumber kekuasaan yang ada di masyarakat dengan cara persuasif atau konflik. Karena itu, dalam semua proses politik, pemimpin dinilainya menjadi sangat penting dalam membawa tujuan politik kekuasaan tersebut. "Kualifikasi seorang pemimpin yang dibutuhkan saat ini yaitu muslim taat, berpengetahuan, sehat jasmani rohani, serta pemimpin syar'i dan rasional," pungkasnya. (ika/mau/c2/dwi)
Reporter : Maulana
Foto : Humas Unmuh for Radar Jember
Editor : Dwi Siswanto
Editor : Alvioniza