Pengembangan industri ekonomi kreatif di desa tersebut merupakan pemilihan lokasi yang strategis. Dengan banyaknya masyarakat yang bermatapencaharian sebagai petani kopi, dan ditemukannya banyak batu purba zaman megalitikum, hal ini menjadi peluang besar bagi masyarakat setempat untuk meningkatkan perekonomian melalui potensi desa.
Selama ini, masyarakat Desa Sucolor mengolah kopi dengan metode tradisional. Penjualannya juga belum gencar dan meluas layaknya di kota-kota. Sebab, pemahaman masyarakat terkait manajemen pemasaran, inovasi, dan pengolahan kopi masih sangat minim.
"Padahal kopi bisa diolah menjadi berbagai produk, selain berupa bubuk minuman pada umumnya, bisa juga menjadi pelengkap style fashion atau bentuk produk lain seperti pewangi," ungkap Ketua Tim Program PHP2D BEM FKIP Unej Ainur Rohimah.
Untuk meningkatkan kualitas pengetahuan masyarakat setempat, BEM FKIP merencanakan adanya pelatihan dan pendampingan secara intensif kepada masyarakat. "Ada tiga produk yang ingin kami buat, ada tali pengait masker dari kopi, yang saat ini juga dibutuhkan karena pandemi. Kemudian membuat pengharum ruangan dari kopi, juga nanti kita akan membuat teh kopi, teh dari kulit kopi," papar Ima.
Tak hanya kreativitas, pembuatan produk tersebut juga mengedukasi masyarakat untuk memanfaatkan segala yang dihasilkan dari kopi. Selain itu, BEM FKIP juga mendampingi masyarakat dalam pengolahan kopi yang lebih praktis dan modern.
"Juga akan ada pelatihan pengemasan dan pemasarannya. Jadi, agar penjualan kopi dan penghasilan masyarakat lebih terangkat. Lalu kami selingi dengan sentuhan-sentuhan teknologi," katanya.
Di samping sebagai bentuk pengabdian, program tersebut juga sebagai bentuk sinergitas BEM FKIP dalam mendukung riset yang dilakukan dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unej sebelumnya. Yakni penelitian dan pengembangan industri wisata terpadu berbasis tradisi lisan yang berfokus pada penemuan batu-batu purba.
"Diharapkan, program kami bisa bersinergi dengan program Unej lainnya untuk membangun desa. Terlebih desa ini memiliki potensi kekayaan melimpah, yakni batu purba yang letaknya di kebun kopi," harap Ima yang juga Wakil Ketua BEM FKIP itu.
Menurut survei yang telah dilakukan sebelumnya, di desa tersebut diperlukan adanya tata kelola destinasi wisata. Seperti penataan akses jalan menuju kebun kopi, pemberian petunjuk arah memasuki kebun kopi, pemberian papan nama pada jenis pohon kopi untuk saran edukasi, dan pembuatan spot foto untuk estetika wisata. "Sehingga, ekonomi industri kreatif masyarakat semakin baik karena wisata batu purba, tapi alam tetap terjaga. Serta produk kopi di wisata itu menjadi ciri khas desa Sucolor nantinya," pungkasnya.
Reporter: Delfi Nihayah
Fotografer: Instagram BEM FKIP Unej
Editor: Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Safitri