Saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, Selasa kemarin, ketiganya mengisahkan pengalamannya. Salah satunya Weni, yang mengikuti Olimpiade Bahasa Indonesia (OBI) FKIP Unej se-Jatim dan Bali, 16 September lalu.
Lolos di babak penyisihan, dia unjuk kemampuan dalam Monolog Bahasa Indonesia. Saat itu, Weni mengangkat judul Balada Samara. "Monolog ini mengisahkan anak dari orang tuanya yang dituduh antek komunis. Bagaimana dampak sosial dia dan kesehariannya," kata santri kelas XII IPA I itu. Penampilannya bikin dewan juri kepincut, dan langsung meraih juara 1.
Tak jauh berbeda, di ajang yang sama, Zahron juga mendapat torehan memuaskan, yakni juara harapan I. "Monolog saya mengisahkan tragedi kekejaman komunis zaman dulu. Persiapannya minim, tapi alhamdulillah bisa juara," beber Zahron.
Sementara itu, Octavia Safina Fitri, turun di bidang berbeda. Santri kelas XII Program Keagamaan (PK) II itu dinobatkan juara 1 dalam Lomba Cipta dan Baca Puisi Tingkat Kabupaten Jember yang digelar Forum Anak Jember (FAJ), 16 September lalu. "Puisi saya menggambarkan Indonesia, yang katanya sudah merdeka. Padahal sebenarnya belum merdeka dan Indonesia tidak sedang baik-baik saja hari ini," ucap santri yang mengidolakan Wiji Thukul itu.
Tak hanya pandai berpuisi, dirinya pun berbakat bikin puisi. Kebanyakan puisinya bertema Indonesia atau mengkritik rezim, seperti puisi Wiji Thukul. "Berpuisi itu soal rasa, isi hati yang dituangkan melalui tulisan dan indra. Puisi juga bukti bahwa kita peka terhadap realita," kata Via.
Sementara itu, Waka Kesiswaan MA Unggulan Nuris Dian Bagus Eka Pratikno menambahkan, selama ini para siswa memang selalu aktif mengikuti ekstrakurikuler. Sehingga mereka yang memiliki bakat dan minat, dapat terus diasah dan dikembangkan.
Pihaknya berharap ke depan ada nama-nama baru yang bisa mengikuti Weni, Zahron, atau Via. "Ini bukti, MA Unggulan Nuris bisa jadi MA percontohan dan MA yang konsisten menghasilkan generasi penerus yang berprestasi serta berakhlak mulia," pungkasnya. (kl) Editor : Safitri