Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Molong Kopi, Tarian Unik Penuh Filosofi dari Jember yang Terinspirasi dari Aktivitas Panen Kopi

M Adhi Surya • Selasa, 27 Januari 2026 | 06:00 WIB
MENAWAN: Penampilan tari molong kopi yang dibawakan penari dari Sanggar Tari Sotalisa.
MENAWAN: Penampilan tari molong kopi yang dibawakan penari dari Sanggar Tari Sotalisa.

Radar Jember - Dari kebun kopi di Jember, gerak sederhana petani saat panen kini diolah menjadi sebuah karya tari.

Molong Kopi, garapan Sulistiowati dari Sanggar Tari Sotalisa, lahir dari rutinitas harian di kebun.

Tangan-tangan terampil itu bergerak perlahan, memetik buah merah yang matang sempurna.

Di balik gerak yang tampak sederhana, tersimpan ritme kerja panjang yang telah diwariskan turun-temurun.

Dari keseharian itulah sebuah karya tari lahir dari sebuah kisah yang kemudian diberi judul Molong Kopi.

Tarian ini tidak muncul dari ruang latihan yang sunyi atau imajinasi yang jauh dari realitas.

Ia tumbuh dari kebun, dari tanah yang lembap, dari rutinitas petani kopi yang setiap hari bergelut dengan alam.

Sulistiowati, penggiat seni dari Sanggar Tari Sotalisa, menangkap keindahan itu dengan kepekaan seorang seniman.

Ia tidak mencari gerak yang megah atau spektakuler, melainkan merawat gerak yang selama ini kerap luput dari perhatian.

Setiap detail dalam molong kopi digarap apa adanya.

Gerakan memetik buah kopi, menampung hasil panen, hingga menyelipkan biji kopi ke dalam keranjang tidak dibuat berlebihan.

Semua disusun menjadi rangkaian koreografi yang mengalir alami, seolah penari sedang benar-benar berada di tengah kebun.

Tubuh para penari bergerak luwes namun tetap bersahaja, mencerminkan keseharian perempuan-perempuan yang hidupnya menyatu dengan ladang.

Tidak ada hentakan keras atau lompatan tinggi. Yang ada adalah ritme pelan, konsisten, dan penuh ketekunan—seperti kerja para petani itu sendiri.

“Karena dari judul saja sudah filosofis, sehingga tarian ini bukan hanya untuk hiburan saja,” tutur Sulistiowati.

Bagi guru seni budaya SMA Negeri 2 Jember itu, Molong Kopi adalah kisah tentang kerja, kesabaran, dan ketekunan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Nama molong kopi pun dipilih dengan penuh kesadaran.

“Molong itu bahasa Madura yang artinya panen,” jelasnya.

Pilihan kata itu menjadi penanda kuat tentang akar budaya masyarakat Jember yang beragam, namun hidup berdampingan dalam satu lanskap yang sama.

Sebuah lanskap yang diikat oleh tanah subur dan hasil bumi yang melimpah.

Dalam tarian ini, tidak ada gerak yang sekadar lewat.

Setiap ayunan tangan menyimpan makna, setiap langkah menggambarkan proses panjang sebelum kopi akhirnya sampai ke tangan penikmatnya.

Dari kebun menuju keranjang, dari tanah menuju cangkir. Sebuah perjalanan yang sering kali tak terlihat, namun menentukan rasa.

Lebih jauh, molong kopi  juga menjadi ruang perkenalan tentang kekayaan alam Jember.

Sulistiowati ingin tarian ini berbicara tentang tanah yang subur dan hasil bumi yang membanggakan.

“Kopi dan cokelat di Jember sudah cukup dikenal luas karena kelezatannya,” imbuhnya.

Kekayaan itu, menurutnya, layak dirayakan tidak hanya lewat angka produksi atau komoditas ekonomi, tetapi juga melalui karya seni.

Seni yang lahir dari kehidupan sehari-hari, dari peluh petani, dari gerak yang jujur.

Lewat molong kopi, seni tari menemukan jalannya sendiri untuk dekat dengan kehidupan, membumi, dan bertumbuh sebagai cerita tentang alam, manusia, dan budaya Jember.

Sebuah tarian yang tidak sekadar ditonton, tetapi dirasakan. (dhi/dwi)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #Panen Kopi #Tari Daerah #Sanggar tari