Radar Jember – Turis asal Amerika mengikuti tradisi ruwat kebangsaan di Kecamatan Pakusari.
Tak hanya hadir sebagai penonton, bahkan ia juga turut andil mengikuti prosesnya mulai dari ruwatan, cium bendera hingga makan makanan tradisional yang telah didoakan dan dimakcopati.
Kegiatan ini menjadi refleksi nilai-nilai Pancasila dan kebangsaan dalam bingkai kebudayaan Indonesia, yang digelar secara khidmat dan meriah di tengah masyarakat.
Tradisi Ruwat Kebangsaan ini diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PCTA Indonesia Jember, sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya leluhur yang sarat makna.
Acara ini tidak hanya menjadi bentuk penghormatan terhadap warisan budaya, tetapi juga ruang pertemuan spiritual lintas budaya dan generasi.
Keterlibatan turis asing menandakan bahwa nilai-nilai lokal Indonesia memiliki daya tarik universal yang dapat menyentuh hati siapapun.
Wakil Ketua DPC PCTA Indonesia Jember, Ananda Putra mengatakan, Ruwat Kebangsaan digelar sebagai wujud syukur terhadap asas negara, Pancasila.
“Ruwat ini adalah cara kami mengungkapkan rasa syukur atas anugerah ideologi bangsa. Di dalamnya ada doa lintas agama, sarasehan kebangsaan, serta pertunjukan seni dan ruwat kebangsaan yang mengandung nilai-nilai luhur,” ujar Nanda.
Dalam rangkaian acara, suasana menjadi sangat syahdu saat doa lintas agama dilantunkan.
Umat dari berbagai keyakinan duduk bersama dalam keheningan, mempersembahkan doa bagi persatuan dan kedamaian Indonesia.
Momen ini menjadi simbol kuat bahwa perbedaan dapat disatukan melalui semangat kebangsaan yang menjunjung tinggi toleransi.
Menariknya, pentas seni yang dihadirkan turut menjadi sorotan utama. Komunitas musik kontemporer Sarkel tampil berkolaborasi dengan macapat tradisional yang dibawakan oleh Cak Cid, seorang budayawan dari Sanggar Umah Wetan.
Perpaduan suara modern dan klasik menciptakan harmoni yang tidak hanya memikat telinga, tetapi juga menggugah kesadaran akan kekayaan budaya bangsa.
Kehadiran turis asal Amerika pun mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Ia tampak antusias mengikuti setiap rangkaian acara, bahkan turut serta dalam sesi dialog sarasehan.
“Saya merasa sangat tersentuh. Tradisi ini mengajarkan banyak hal tentang pentingnya kebersamaan, cinta terhadap tanah air dan melestarikan budaya leluhurnya” ucap Livera. (dhi).
Editor : M. Ainul Budi