Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Menikmati Pertunjukan PSRM Sardulo Anorogo Universitas Jember, Upaya Pelestarian Budaya agar Tak Punah

Yulio Faruq Akhmadi • Jumat, 30 Mei 2025 | 15:00 WIB
MEMUKAU: Paguyuban Seni Reog Mahasiswa (PSRM) Sardulo Anorogo Universitas Jember menggelar pertunjukan di panggung depan Gedung Soekarno. (YULIO FA/RADAR JEMBER)
MEMUKAU: Paguyuban Seni Reog Mahasiswa (PSRM) Sardulo Anorogo Universitas Jember menggelar pertunjukan di panggung depan Gedung Soekarno. (YULIO FA/RADAR JEMBER)

Radar Jember - Jember begitu kaya akan budaya beserta cerita di baliknya.

Salah satunya adalah kebudayaan Reog Ponorogo yang banyak ditemui di wilayah selatan.

Namun, tanpa upaya pelestarian yang berkesinambungan, warisan ini bisa saja hilang ditelan zaman.

Sebuah pertunjukan bertajuk Gelar Reog Purnama memikat perhatian warga setempat.

Bahkan tak sedikit pengguna jalan yang rela menepikan kendaraannya demi menyaksikan aksi dari Paguyuban Seni Reog Mahasiswa (PSRM) Sardulo Anorogo Universitas Jember.

Dari yang tua, muda hingga anak-anak melebur jadi satu dengan pandangan yang tertuju pada pentas.

Tak sedikit pula penonton yang mengarahkan kamera ponsel untuk mengabadikan penampilan memukau tersebut.

Pembina PSRM Sardulo Anorogo Jarkasih mengatakan, pertunjukan tersebut tak sekedar panggung hiburan semata.

Namun lebih dari itu, penampilan pertama yang digelar di panggung yang baru saja dibangun itu merupakan bentuk upaya dari mahasiswa Unej untuk melestarikan dan mengenalkan budaya reog pada masyarakat di Jember.

“Harus dikenalkan dari generasi ke generasi, jangan sampai budaya ini punah di Jember,” katanya.

Menurutnya mahasiswa memiliki peranan krusial dalam pelestarian budaya.

Sebab, mereka berada di persimpangan antargenerasi.

Di satu sisi mereka bisa menjangkau pegiat budaya yang sudah mulai tua.

Di sisi lain mereka bisa mengemasnya agar menjadi menarik bagi generasi muda.

“Mahasiswa memiliki power untuk pelestarian budaya, mereka bisa belajar langsung ke pegiat budaya dan mereka juga bisa mengajarkannya ke anak sekolah,” katanya.

Jarkasih menambahkan, ada alasan penting mengapa warga Jember harus melestarikan Reog Ponorogo.

Dikatakan, Reog menyimpan cerita perjalanan Kabupaten Jember yang tak boleh dilupakan.

Pada zaman dahulu banyak warga Ponorogo yang bertransmigrasi ke Jember selatan demi mencari penghidupan yang lebih baik.

Mereka tak datang dengan tangan kosong.

Namun, mereka datang membawa budaya yang terus berkembang hingga saat ini.

“Makanya di Jember, Reog itu menyebar di wilayah selatan,” tambahnya.

Di sisi lain, menjadi penari Reog bukanlah perkara mudah.

Butuh waktu satu hingga dua tahun untuk benar-benar menguasai setiap gerakan.

Mereka datang dari berbagai daerah, bukan dari Ponorogo, dan banyak di antaranya tidak memiliki dasar seni Reog.

"Mereka kami olah dari nol," ujar Jarkasih.

Meski begitu, semangat mereka tak pernah surut.

Di Jember, tradisi Reog tak hanya berkembang di kampus, tetapi juga di beberapa SMK.

Reog juga berkembang di perguruan tinggi lain seperti Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Muhammadiyah Ponorogo.

Ke depan, Jarkasih berharap kolaborasi lintas instansi bisa diperkuat.

Apalagi melihat antusiasme penonton yang begitu besar.

Pertunjukan kali ini juga menjadi momentum khusus.

Selain menjadi agenda internal UKM, acara ini sekaligus untuk merayakan pengakuan Reog sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO, beberapa bulan lalu.

Sebuah pengakuan yang menjadi bukti bahwa Reog bukan sekadar hiburan, tapi akar budaya yang harus dijaga.

Jarkasih berharap generasi muda, pelajar, dan mahasiswa di Jember mau ikut berperan dalam menjaga tradisi ini.

"Monggo, dari mana saja, mari bergabung dan jadikan Reog sebagai akar budaya kita," pungkasnya. (yul/c2/nur)

 Baca Juga: Lebih Dekat dengan Penari Bondoyudo Jember Janesta Riska Holily, Terus Bikin Festival demi Lestarikan Budaya

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#seni dan budaya #Jember #reog ponorogo #UNEJ