Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Upaya Nguri-uri Budaya di Wuluhan Jember, Pelaku Seni Bertahan dengan Job Manggung Ala Kadarnya

Radar Digital • Jumat, 5 Januari 2024 | 18:40 WIB
ATRAKSI REOG: Pemain reog Ponorogo tampil dalam acara hajatan warga di Desa Wringintelu, Kecamatan Puger, belum lama ini.
ATRAKSI REOG: Pemain reog Ponorogo tampil dalam acara hajatan warga di Desa Wringintelu, Kecamatan Puger, belum lama ini.

Di era modern dan serba canggih ini, ragam kesenian tradisional tetap sering terlihat. Namun, di balik pertunjukan itu, ada perjuangan yang tak mudah dilalui para seniman. Lebih-lebih kesenian yang digawangi para pemuda.

SUARA gong dan lenong siang itu terdengar begitu lantang. Terlihat sinden dan penyanyi bersuara melengking mengiringi pertunjukkan sekitar tiga reog Ponorogo yang menari-nari saat itu. sambil mengibas-ngibaskan dadak meraknya ke arah penonton. Sesekali penari-penari reog itu mengangkat warga di atas kepala reog.

Keseruan pun begitu terasa. Puluhan pasang mata saat itu dibuatnya terpukau dengan pertunjukan reog dan iringan musik tradisional, genap dengan penyanyinya, saat itu. "Ayo, siapa lagi yang mau naik ke reog?" tanya salah satu pemandu pertunjukkan reog kepada warga di salah satu rumah, Desa Wringintelu, Kecamatan Puger, akhir Desember 2023.

Saat hajatan di salah satu rumah warga itu, diketahui memang ada pertunjukan campursari, jaranan, dan reog Ponorogo. Para pelaku seni yang tergabung dalam Paguyuban Swara Putri Tunggal asal Dusun Gawok, Desa Dukuh Dempok, Wuluhan, itu memang tengah ada job di desa tersebut. Mereka membawa segenap kru. Mulai dari para penabuh gamelan, gong, lenong, sampai penari reog dan penyanyinya.

Mereka manggung dari rumah ke rumah. Sesekali kalau ada event besar, seperti momen agustusan, job manggung bisa padat setiap harinya. "Suka dukanya jadi pelaku seni, ya, gini ini. Serasa punya keluarga baru, dulur baru, meski job manggung tak harus setiap hari," aku Baruna, Ketua Paguyuban Swara Putri Tunggal.

Pemuda berusia 23 tahun itu memang didapuk untuk mengetuai sekitar 15 orang anggota pelaku seni yang mayoritas juga dari kalangan muda seusia dirinya. Paguyuban seni budaya ini juga terbilang masih baru. Baruna menginisiasi terbentuknya paguyuban seni budaya itu berangkat dari kesukaannya pada kesenian tradisional. "Mbah saya, bapak saya, memang suka reog dan campursari seperti ini. Jadi, saya hanya meneruskan saja, bareng temen-temen," kata Baruna.

Kesukaannya terhadap kesenian tradisional ini berjalan bukan tanpa halangan. Baruna menyebut, hal-hal yang paling saat mulai menghidupkan paguyuban adalah ketika mencari kawan-kawan yang memiliki keinginan sama, yakni melestarikan reog Ponorogo dan campursari. "Kadang ngajaki temen, ternyata tidak bisa karena tidak diperbolehkan sama istrinya. Akhirnya, saya sama istri yang kebetulan juga sebagai penyanyi di paguyuban ini, datang silaturahmi ke rumahnya, dan dari situ istrinya setuju kalau suaminya gabung ke paguyuban ini," katanya.

Dia mengutarakan, ada alasan mendasar mengapa keluarga kawan-kawan seperjuangannya kurang begitu mendukung. "Saya tanya alasannya, begini, takut banyak godaan di jalanan," katanya, menirukan.

Bagi Baruna, menghidupkan seni budaya seperti campursari dan reog Ponorogo ini menjadi bagian dari caranya melestarikan budaya. Meski job manggung tidak tiap hari, dia beruntung karena bisa nguri-nguri kesenian itu dengan kawan-kawan yang memiliki tujuan sama. "Paguyuban kami gotong royong, gak ada bos. Jadi, meski saya jadi ketua, tetap atas rasa kegotongroyongan," tukasnya. (c2/nur)

Editor : Radar Digital
#Reog #Jember