Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Pemain Kentrung Muda Harus Terus Berlatih Ngelawak

Radar Digital • Minggu, 24 Desember 2023 | 18:20 WIB
Photo
Photo

REGENERASI penting dilakukan untuk melestarikan seni kentrung. Itulah yang dilakukan Junaedi agar seni kentrung bertahan dan berkembang. Maka dari itu, Junaedi mengaku, sekarang pemain kentrung sebagian besar adalah anak muda. Karena yang senior sudah kerja semua. “Kami dorong yang muda-muda main kentrung. Awalnya mereka ini fokus di seni peran. Tapi, saya arahkan juga ke seni kentrung,” ungkapnya.

Namun, tentu saja terdapat tantangan. Jika para pemain kentrung senior latihannya hanya melalui WA saat hendak pementasan, pemain junior harus lebih intens. “Kalau yang senior itu cukup membuat teks lawaknya, yang disesuaikan dengan tema. Teman-teman lain tinggal mempelajari. Kalau yang masih muda belum terlalu bisa untuk melawak. Jadi, harus latihan, di-briefing dulu untuk mengajarkan materi melawak,” ungkapnya sambil tertawa bangga.

Sementara itu, Junaedi menjelaskan, meskipun sanggarnya terletak di Curahdami, tapi anggota pemain kentrungnya jarang ada yang dari Curahdami. Justru berasal dari beberapa kecamatan lain. “Karena komunitas GAS ini basisnya seluruh kabupaten. Jadi, dari berbagai macam kecamatan,” ungkapnya.

Generasi muda ini juga yang mengembangkan seni kentrung milenial. Dengan tambahan empat alat musik. Agar pementasan dan suara kentrung semakin meriah. Jika sebelumnya tiga pemain kentrung disebut laksana fungsinya, kali ini alat kentrung ditambah dengan alat yang sebenarnya, yakni gong, kendang, dan kenong. “Jadi, kalau kentrung milenial ini para pemuda yang totalnya tujuh orang. Bahkan kadang saya tambahi suling juga. Selalu berinovasi lah kalau kentrung ini,” ungkapnya.

Salah satu pemain kentrung berusia muda mengatakan, ada perasaan senang sewaktu mementaskan seni kentrung. Kentrung bertujuan untuk membuat penonton tertawa, atau terhibur. “Ini beda dengan teater yang menyentuh perasaan dan jiwa. Jadi, ini percampuran musik dan lawak. Niat awalnya memang mengundang penonton tertawa,” ungkapnya.

Para pemain junior kentrung ini juga melakukan latihan rutin. Ini berbeda dengan pemain senior yang tidak pernah latihan rutin. “Pemain kentrung yang muda-muda ini kan sebenarnya dulu pemain teater dan seni peran. Jadi, ketika berlatih teater, mereka sekaligus berlatih kentrung. Karena, kalau ada pementasan teater juga sekaligus saya keluarkan penampilan kentrung,” ungkap Junaedi.

Selain pelestarian melalui anak muda, Junaedi mengaku keberadaan peneliti dari kalangan mahasiswa juga membantu merekam seni kentrung sebagai sebuah bentuk seni. Ini yang membuat kentrung diabadikan dalam sebuah kajian tertulis. “Kentrung ini sudah beberapa kali menjadi objek penelitian skripsi. Ada mahasiswa dari Malang, Jember, dan Surabaya. Ada yang meneliti seni musiknya dan sastra lisannya,” terang Cak Jun. (mg1/c2/dwi)

Editor : Radar Digital
#kentrung #berlatih