Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Hidupkan Imajinasi Pantai Selatan Pulau Jawa dengan Kekayaan Literasi Sastra Anak Tepi Benua

Radar Digital • Senin, 11 Desember 2023 | 19:20 WIB
UNJUK KARYA: Anak-anak saat naik pentas dalam gelaran apresiasi karya anak tepi benua.
UNJUK KARYA: Anak-anak saat naik pentas dalam gelaran apresiasi karya anak tepi benua.

Anak-anak menyimpan kekayaan potensi yang teramat sayang jika tak dieksplorasi. Selama ini, banyak mata memusatkan perhatiannya pada sekolah-sekolah di kota. Tanpa bermaksud mengesampingkan, namun tak sedikit sekolah yang berada di pinggiran justru menyimpan harta karun dengan berbagai keunikannya.

ANAK Tepi Benua, begitulah Komunitas Srawung Sastra memanggil anak-anak yang tinggal dan bersekolah di kawasan pesisir pantai Puger. Letak geografis SMPN 3 Puger berbatasan langsung dengan Samudra Hindia di sisi paling selatan Pulau Jawa. Dinding belakang sekolah bersentuhan langsung dengan air laut. Di seberangnya adalah Benua Australia. Sehingga, nama itu bukan menjadi satu sebutan khayalan.

Sebutan spontan penuh makna itu sekaligus menyuntikkan motivasi bagi anak-anak sekitar. Bulan lalu, Jambore Literasi Anak Tepi Benua rampung digelar di tiga titik. SMPN 3 Puger, SMPN 3 Ambulu, dan SMP Trunojoyo, Desa Cakru, Kecamatan Kencong. Selama dua hari para siswa diberikan pelatihan dan pendampingan menciptakan karya sastra. Setelah sebelumnya telah dilakukan kesepakatan bersama.

Ketua Srawung Sastra, Gunawan Trip, mengungkapkan keyakinannya pada keluasan imajinasi anak dengan gagasan terpendam mereka. Edukasi yang diberikan selama jambore diciptakan sebagai momentum agar anak-anak bisa menumpahkan karya terpendamnya. “Merangsang anak-anak menemukan ide-ide. Anak tepi benua menjadi spirit merangsang imajinasinya yang liar,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Jember di sela-sela gelaran Apresiasi Karya Anak Tepi Benua di salah satu kedai kopi di Jember, Kamis (7/12) lalu.

Menurutnya, anak-anak pinggiran sudah kuat secara kultural. Sehingga pendampingan yang dilakukan adalah upaya membakar semangat berliterasi dan berkarya. Karya sastra sengaja dipilih sebagai suguhan utama dalam jambore. Selain lebih luas, karya sastra, baik puisi maupun cerpen, dianggap lebih mudah untuk menuliskan imajinasinya.

Dari tiga sekolah, masing-masing memiliki satu perbedaan materi tentang lingkungan. Disesuaikan dengan kultur yang ada. Seperti Puger yang lebih dekat dengan kemaritiman, Ambulu dengan toleransinya, dan Cakru dengan sejarahnya. “Puisi dan cerpen yang dikenalkan,” sebut founder Rimba Watu Kebo itu.

Sedikitnya ada 133 anak dari 18 sekolah yang ikut berkumpul di tiga titik tersebut. Mentor yang mendampingi tak diragukan lagi kompetensinya. Mereka adalah penulis dan para pegiat sastra di Jember. Penulis buku dengan belasan bukunya hingga novelis yang sudah dikenal se-Asia Tenggara. Sebanyak 40 karya terbaik anak-anak tepi benua dikumpulkan dalam sebuah buku digital dan di-launching pada malam Apresiasi Karya Anak Tepi Benua. Agenda yang didukung oleh Kemendikbud RI itu juga akan mengabadikan karya mereka dalam sebuah buku antologi secara fisik dengan judul Pergi ke Menara Api.

Sementara itu, mentor Jambore Literasi Anak Tepi Benua, Muhammad Lefand, mengatakan, pada awalnya tak semua anak suka menulis. Namun, seiring minat itu ditumbuhkan, perlahan kemauan demi kemauan muncul. Founder Masyarakat Literasi Jember itu yakin, siswa-siswa yang bersekolah di pinggiran mampu berkarya, bahkan lebih baik.

Dia dan kawan-kawan pendamping lain menjalankan abdinya dengan telaten. Anak-anak tak hanya diajari teknik menulis, tetapi juga diberikan pengalaman riil. Baik yang dialami oleh mentor maupun cerita-cerita nyata di lingkungan tempat tinggal mereka. “Karya mereka luar biasa. Kalau diasah terus, mereka bisa,” ungkap penulis puisi yang sudah menghasilkan 13 buku puisi ber-ISBN itu.

Semangat yang ditularkan itu tampaknya berhasil dihirup oleh anak-anak tepi benua. Griselda Adha Kusuma dan Febi Deswita Safitri misalnya. Remaja asal Getem, Puger, itu mengaku menemukan semangat berliterasi saat jambore. “Awalnya dengar literasi itu bikin males. Lalu (saat jambore, Red) lama-lama seru, jadi semangat pengen nulis terus,” tuturnya sambil menceritakan karya puisinya yang berjudul “Lautan Keajaiban”. (sil/c2/dwi)

 

Editor : Radar Digital
#sastra #literasi