Jika kesenian diidentikkan dengan kalangan dewasa, justru di Lumajang didominasi usia muda. Terutama mereka pecinta musik danglung. Apalagi iringan musiknya menggunakan alat tradisional. Seperti gong, gamelan dan masih banyak lainnya.
Butuh belajar lebih ekstra untuk mahir menggunakan alat itu. Apalagi alunan musik yang dibawakan berbeda dari biasanya. Bisa saja nadanya tinggi tiba-tiba rendah. Nah, ini yang perlu dikuasai.
Namun, bagi sanggar Cio Indonesia Art Culture ini bisa diatasi. Meskipun perlu banyak latihan. Tidak cukup satu dua kali. Tapi harus diulang berkali-kali. “Memang menggunakan alat musik tradisional. Kita pun kalau tampil kostumnya juga menyesuaikan,” tutur Cio.
Uniknya di sanggar ini, diisi oleh kalangan muda-mudi. Mereka mau belajar dan melestarikan kesenian tradisional. Meskipun tidak mudah menggaet mereka, namun beragam pendekatan dilakukan. Dengan harapan, bisa terus dilestarikan generasi bangsa. “Cio menjadi ruang untuk mengekspresikan kemampuan yang dimiliki. Dan yang paling penting adalah merasa memiliki bahwa kebudayaan Lumajang harus dilestarikan dan di jaga,” pungkasnya. (dea/nur)
Editor : Radar Digital