SOLO, RADARJEMBER.ID - Seabad lebih atau 113 tahun, kini usia wayang orang Sriwedari, Solo. Manis pahit kehidupan di atas panggung Gedung Wayang Orang (GWO) sudah dirasakan para pemainnya. Dari gaji jauh dari kata layak hingga pentas tanpa penonton.
Namun, kondisi itu kini perlahan mulai berubah.Pujiyono masih ingat betul momen-momen awal dia bergabung sebagai pemain Wayang Orang Sriwedari pada Januari 2001. Kala itu, statusnya masih sebagai tenaga harian lepas (THL).
"Gaji saya waktu kali pertama masuk Rp 160 ribu per bulan. Lalu naik menjadi Rp 200 ribu dan sampai 2007 gaji saya Rp 700 ribu," ucap lelaki itu.Tak hanya pendapatan minim. Jumlah penonton di awal era 2000-an juga sangat sedikit.
Ada lima hingga sepuluh orang yang duduk di bangku penonton saja sudah istimewa bagi para pemain. Bagaimana tidak, acapkali para pemain pentas dengan sama sekali tak ada yang menyaksikan.
"Tetapi kami tetap main karena sudah digaji pemkot. Kami harus profesional," imbuh Puji.Kabar baik datang di awal 2005, di mana para pemain mulai mengalami peningkatan kesejahteraan dan membuat mereka senang dan bahagia.
Satu per satu pemain telah lama mendedikasikan diri di atas panggung hiburan diangkat menjadi tenaga kerja dengan perjanjian kerja (TKPK) atau honorer dengan penghasilan UMK.Nah, 2008 nasib baik menghampiri Pujiyono. Ia pun diangkat sebagai aparatur sipil negara (ASN).
"Waktu itu era Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono,Red), bagi pemain aktif disuruh mengumpulkan berkas. Kemudian dilakukan pengangkatan (menjadi ASN). Angkatan saya ada lima orang. Dari pemain dua orang, kemudian pengrawit tiga orang," tambah lelaki itu.
Selain kesejahteraan meningkat, mutu para pemain juga ditingkatkan. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Solo kerap melakukan regenerasi pemain. Mulai dilakukan seleksi guna mencari bibit pemain baru.
Pada 2010, banyak lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Solo ingin bergabung menjadi keluarga besar Wayang Orang Sriwedari. Hadirnya pemain-pemain muda ini mampu menjadi magnet untuk menarik penonton.
"Karena pemainnya banyak uang muda, pertunjukan lebih aktraktif, pemain enerjik serta dikemas dalam cerita yang inovatif, sehingga ada energi tersendiri.Keberadaan media sosial juga sangat mempercepat komunikasi, sehingga banyak penonton luar daerah datang.”tegas Puji.
Kini, setiap hari minimal ada 100 penonton di Gedung Wayang Orang. Bahkan pada malam Minggu bisa tembus 400 penonton. Menariknya, mereka bukan hanya berasal dari kalangan sepuh. Kalangan remaja pun mulai gemar dengan tontonan budaya.(*)
Editor:Winardyasto HariKirono
Foto:M.Ihsan/Jawa Pos Radar Solo
Sumber Berita:Jawa Pos Radar Solo
Editor : Safitri