JEMBER, RADARJEMBER.ID - Keris-keris berbagai macam bentuk dan ukuran itu terpajang rapi di meja-meja. Ada yang ditempatkan di sebuah rak khusus, dengan wadah yang dominan berwarna kuning keemasan. Seolah tak boleh untuk dipegang, namun cukup dilihat saja.
Keris-keris ini bukannya tak bertuan. Mereka dimiliki oleh sejumlah kolektor keris yang mengikuti pameran benda-benda antik dan bersejarah di sekitar Alun-Alun Jember, kemarin (14/7). Meski ada banyak benda lain yang dipamerkan, namun hampir 90 persen di antaranya adalah benda pusaka jenis keris tersebut.
Tak hanya dipamerkan, para kolektor itu juga sesekali berbincang-bincang dengan para rekannya. Mereka seolah baru ketemu, itu terlihat dari cara mereka mengawali pertemuan, bersalaman, dan berpelukan, bak saudara yang disatukan oleh keris. "Saya sendiri dari Madura, ikut pameran ini ingin menambah pengalaman dan ketemu saudara baru," aku Shiddiq, pehobi keris asal Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, Madura.
Ia juga menunjukkan sejumlah koleksi keris peninggalan era Kerajaan Majapahit, yang memiliki ciri dan karakter yang khas, yang usianya diperkirakan sudah ratusan tahun. "Cuma, ini meski era zaman Majapahit, bukan dimiliki para bangsawan. Namun, para pribuminya, dari bentuk sarung saja sudah kelihatan beda, sulit ditiru," katanya, menjelaskan.
Para kolektor atau pehobi keris saat itu mendapat keris-kerisnya dengan membeli dari kenalan ke kenalan atau saudara. Para pehobi keris ini rela merogoh kocek puluhan juta demi mendapatkan pusaka bersejarah ini jatuh ke genggamannya.
Tak hanya mengoleksi, mereka juga rutin merawat pamor yang melekat pada fisik keris, dan rutin mengikutkan penjamasan. "Biasanya dijamas bareng-bareng pada malam satu Suro," kata pria yang sudah 20 tahunan mengoleksi keris ini.
Dalam idiom Jawa, keris bermakna angker tur aris, yang artinya berwibawa, keramat, dan bijaksana. Orang Jawa percaya, keris memiliki nilai-nilai filosofi kehidupan. Seperti dari bentuk keris yang berkelok, bermakna kehidupan orang yang luwes, dinamis. Kalau bentuk lurus, menandakan seorang harus memiliki tujuan hidup jelas dan terarah.
Kemudian, sebagai pusaka, ketika diletakkan di depan bagian tubuh seseorang, untuk membangun ketokohan dan kewibawaan. Sementara, ditaruh di belakang tubuh sebagai kelengkapan. Keris pun memiliki jenis. Agemen, keris pelengkap budaya dan upacara. Tayoh, keris pusaka, tidak dibuka sembarangan dan dikeramatkan. Dan keris-keris aksesori atau hiasan.
Salah satu pehobi keris saat itu, Sujono, warga Desa Balung Lor, Kecamatan Balung, juga mengakui salah satu warisan budaya bernama keris tersebut, yang dianggapnya perlu dilestarikan dari generasi ke generasi. "Kebanyakan anak muda gak tahu. Kesannya keris itu menakutkan. Nah, kita ingin mengedukasi bahwa keris ini warisan budaya yang perlu dilestarikan," kata Joni Kiwir, sapaan akrab Sujono.
Ratusan keris saat itu juga banyak yang berasal dari peninggalan zaman kerajaan di Indonesia. Saat itu terbanyak keris-keris yang dibuat pada era Kerajaan Mataram dan era Kerajaan Majapahit, sejak abad ke-13 sampai abad ke-14. Sehingga, kini usianya telah berkisar 6 abad lebih. Hal itu menjadi salah satu yang mendasari seseorang suka memilki keris. Bahkan ogah menjualnya meski ditawar dengan harga tinggi.
Dari bentuk, campuran material logam mulia, pamor, dan tahun pembuatan keris ini juga menentukan harga keris ketika dibanderol di pasaran. Dari yang rentan jutaan, bahkan bisa mencapai miliaran. Selain itu, mahalnya harga keris juga dipengaruhi cara pembuatannya yang tidak biasa.
Orang Jawa percaya, seorang empu itu tidak asal menentukan waktu, tanggal, dan hari sebelum membuat keris. Biasanya mereka harus berpuasa terlebih dahulu, atau istilahnya tirakat, sebelum membuat keris. Si empu juga berkeinginan ketika membuat keris bisa benar-benar mewakili karakter dari tuan atau calon sang pemilik keris. Joni Kiwir juga membenarkan idiom semacam itu. "Dari pamornya yang bagus, keutuhan (tidak sampai korosi, Red), sepuh, itu harganya bisa mahal. Seperti Kerisnya Pak Jokowi yang dibuatkan Empu Daliman Solo, harganya Rp 400 jutaan," kata pria kolektor 300 keris itu.
Bagi Joni Kiwir, setiap orang yang memiliki keris itu tergantung sugesti yang ia percayai. Jika keris dipercaya memiliki khadam, hal itu dimungkinkan saja terjadi. Pun sebaliknya, jika keris dikeramatkan, sang tuan keris juga akan senantiasa menjaga diri dari hal-hal yang tercela. "Kalau saya niatnya ingin nguri-uri budaya saja," katanya, disusul tawa. (c2/nur)
Editor : Safitri