BACA JUGA : Sebelas Orang Tewas Ditangan Dukun Pengganda Uang Banjarnegara
Pencakan merupakan pertunjukan yang diwariskan turun-temurun oleh para leluhur. Saat itu, warga pun berkumpul menyaksikan permainan musik, berikut pencakan yang diperagakan oleh dua orang. Mereka bermain untuk menghibur warga.
Ketua perkumpulan kesenian tradisional pencakan Rantai Kuning, Ahmad Hadi Wijaya, menyebut, tradisi pencakan itu dari kakek buyutnya saat menjadi penabuh gendang. Saat ini, budaya pencakan sudah tak begitu ramai. “Hingga saat ini kami masih bertahan melestarikan warisan dari leluhur kami,” ungkapnya.
Setiap hari, Hadi selalu memikirkan cara agar grupnya bisa tampil. Sebab, masa sekarang jarang ada orang yang mau menanggap kegiatan tersebut. Hal itu membuat grupnya semakin meredup. Apalagi, pada tahun 2020 lalu grupnya tak bisa tampil lantaran pandemi Covid-19. Saat itu beberapa anggotanya mulai berpencar karena sepinya job. Beberapa anggota mulai merantau ke Pulau Dewata, Bali, untuk memenuhi kebutuhan hidup. Beberapa anggota lagi fokus bekerja serabutan.
Hal itu membuat Hadi semakin bingung. Sebab, anggotanya banyak yang keluar. Tersisa hanya beberapa personel yang hanya fokus di bagian musiknya. “Sedangkan yang tampil bagian atraksi maupun can-macanan kadduk semakin sedikit,” ujarnya, sembari menunjuk personel penabuh gendang dan kawan-kawannya.
Hadi mengaku, dia dan grupnya terkadang bersedia tampil meski tidak dibayar. Hal itu lantaran keinginannya untuk bisa mengenalkan berbagai warisan budaya dari kakek moyangnya itu. “Grup ini lahir di tahun 1970-an, didirikan oleh kakek saya,” ujarnya.
Grup tersebut menampilkan beberapa pertunjukan. Seperti can-macanan kadduk, topeng monyet, barong, hingga pencakan menggunakan celurit. “Kalau berbagai atraksinya itu dilakukan oleh beberapa pemuda. Tapi, kalau alunan musiknya dilakukan oleh sesepuh,” terangnya.
Penampilan grup milik Hadi itu cukup seru. Bahkan, ada beberapa segmen menarik dari setiap penampilannya. Salah satunya yaitu segmen lawak komedi topeng monyet. Atraksi yang dibumbui dengan lelucon untuk menghibur agar warga bisa tertawa.
Tak hanya itu, segmen yang menegangkan juga ada. Salah satunya yaitu aksi jaranan. Atraksi ini memang terlihat cukup menegangkan seperti makan bohlam hingga melahap kembang yang dicampur dengan air. Atraksi itu sontak membuat penonton tegang sambil meringis menyaksikan penampilan grup Rantai Kuning.
Hingga kini, grup tersebut mulai berkembang lagi. Komunitas budaya ini pun sering tampil di sejumlah tempat, termasuk beberapa kali tampil tanpa dibayar. “Saya bersyukur karena semenjak dibukanya PPKM tahun lalu, kami bisa tampil dengan banyak penonton,” pungkasnya. (c2/nur) Editor : Safitri