Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Pandhalungan dalam Tarian

Safitri • Sabtu, 5 November 2022 | 15:49 WIB
MENARI: Liuk gemulai Fayazza Yastika Permata, siswi SMPN 1 Jember, saat memeragakan Tari Mojasari.
MENARI: Liuk gemulai Fayazza Yastika Permata, siswi SMPN 1 Jember, saat memeragakan Tari Mojasari.
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Seni tari tradisional di Indonesia memiliki beragam jenis. Hampir setiap daerah pasti memiliki tari tradisional yang khas. Biasanya, gerakan dan makna yang terkandung di dalamnya menggambarkan keadaan atau karakter daerah tersebut. Berikut dengan pakem-pakem beserta gerakan dasar yang bisa dikenali dengan mudah saat ditampilkan dalam pertunjukkan.

BACA JUGA : Dianggap Tak Sesuai Pandang Perlu UU Haji Direvisi

Seiring berjalannya waktu, tari tradisional terus berkembang. Tanpa mengesampingkan esensi atau ciri dari tari daerah, tari tradisional kreasi hadir. Sebagai bentuk luapan ekspresi kreativitas seorang ataupun kelompok seniman. Dengan keterampilan yang dimiliki, bisa berinovasi menciptakan tari tradisional, baik dengan koreografi yang dibuat sendiri maupun kolaborasi dari berbagai gerakan dasar tari yang sudah ada.

Tari Mojasari salah satunya. Sebuah tari kreasi tradisional yang menggambarkan karakter Jember yang khas dengan budaya pandhalungan. Yeni Insani Putri, seniman asal Jember yang menciptakan tari kreasi itu, menjelaskan, penamaan Mojasari adalah gabungan dari tiga suku. "M" yang berarti Madura, "O" yang diambil dari kata Osing, dan "Ja" berarti Jawa. Sedangkan, "sari" bermakna gadis Jember. Dia menciptakan tari kreasi saat didapuk menjadi seniman dalam Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS), beberapa waktu lalu, di SMPN 1 Jember.

Tari Mojasari dalam setiap gerakannya menunjukkan karakter gadis Jember yang menarikan tiga karakter yang berbeda. Perpaduan tiga suku tersebut. Madura, Osing, dan Jawa. Tidak ada yang paling dominan. Yeni mengulas, gerakan dasar tari tersebut juga diambil dari tiga tari khas daerah masing-masing. "Hanya melambangkan gadis Jember yang menunjukkan karakter kota ini (Jember, Red)," papar Yeni.

Seperti beberapa gerakan dasar dimodifikasi dari cuplikan tari tradisional dari daerah Madura. Osing, dengan gerakan dasar yang diambil dari tari Gandrung khas Banyuwangi. Suku Jawa sendiri direpresentasikan dari gerakan dasar dalam tari remo asal Jawa Timur. Serta sedikit tari asal Jawa Tengah.

Terdapat sejumlah gerakan dasar dalam tari Mojasari. Di antaranya mendhak, gagahan, ngrayung, ngambeng, dan ulap-ulap. Gerakan mendhak dalam tari tersebut seperti pada umumnya. Berdiri merendah dengan lutut ditekuk dan keadaan paha terbuka. "Mirip seperti gagahan," jelas perempuan yang menjadi pelatih tari di Sanggar Candra Kirana di desa tempat tinggalnya, Desa Tegal Wangi, Kecamatan Umbulsari, itu.

Gagahan, lanjutnya, adalah gerakan dasar dalam tari remo yang biasanya identik ditarikan oleh laki-laki. Ngrayung sendiri bisa dipraktikkan dengan telapak tangan diposisikan menghadap ke depan. Empat jari tangan rapat, namun jempol ditekuk menempel dengan telapak tangan.

Untuk gerakan ngambeng, tangan dibuka ke atas, posisi ketiak harus terbuka. Jari-jari menggenggam kecuali jempol yang agak keluar. Berbeda lagi dengan gerakan dasar ulap-ulap. Gerakannya seperti sedang hormat. Posisi jari sejajar dengan alis atau dahi.

Saat menarikan tari Mojasari, mimik wajah sang penari diharuskan menampilkan karakter ayu. Yeni menyebutnya dengan istilah leter. Yang biasa ditunjukkan ketika menarikan beberapa tari tradisional lainnya. Tari ini ocok dibawakan secara berkelompok atau beramai-ramai. Lebih dari 15 orang. (sil/c2/nur) Editor : Safitri
#Jember #Tari