BACA JUGA : Siapkan Tenaga Perawat Tangani Kasus Gagal Ginjal Akut
Siang itu, Agus memahat topeng barong atau topeng kepala naga. Seperti tanpa beban, dia menyulap sebongkah kayu menjadi topeng barong, dengan alat pahat manual. Agus mengaku, jiwa seni yang tinggi merupakan syarat utama untuk bisa menciptakan karya-karya yang ciamik. “Harus cinta dulu, baru berkarya untuk banyak orang,” ucap pria yang tinggal di Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, tersebut.
Pria dua anak itu awalnya mengukir kayu hanya berupa ukiran motif bunga. Dengan latar belakang sebagai pencinta seni jaranan, akhirnya beralih menjadi perajin atau pengukir topeng barong. Salah satu andalannya yakni topeng berbentuk kepala naga yang digunakan untuk pertunjukan seni jaranan.
Dia mengerjakannya seorang diri tanpa ada tenaga pembantu. Untuk bisa menyelesaikan satu kepala barong, dia membutuhkan waktu yang cukup lama. Semakin sulit motifnya, maka waktu yang dibutuhkan semakin lama. “Dengan begini, karya saya bisa dibilang tidak ada duanya, karena dikerjakan sendiri. Coraknya kepala naga, beda dengan yang lain,” tuturnya.
Dalam pengerjaannya dia selalu memperhatikan keunikan bentuk setiap bagian. Tekstur gigi, sisik, hingga sungut naga. Karena itu, harus mempunyai imajinasi dan ketelatenan yang tingi. “Waktu membuat topeng saya selalu memperhatikan bentuknya, karena hal itu sangat memengaruhi kualitas,” ujar Agus sambil sedang mengukir.
Agus selalu memberikan ciri khas tersendiri pada topeng barong yang dibuatnya. Banyak para penggiat seni jaranan di Jember yang memesan topeng barong kepada Agus. Dia membanderol harga mulai dua sampai empat juta rupiah per topeng. Bergantung pada tingkat kerumitannya.
Sampai saat ini sudah banyak topeng barong karya Agus yang ditampilkan dalam pertunjukan seni jaranan atau dalam festival kesenian jaranan, khususnya di Jember. Pada tahun 2019, topeng barong karya Agus juga sempat memperolah juara dua pada festival topeng barong se-Jawa Timur.
Tak tanggung-tanggung, selain perajin topeng, dia juga membentuk komunitas kesenian jaranan di Ambulu. Hal itu dilakukan Agus agar kesenian jaranan tidak punah. Mengingat di era sekarang pamor kesenian jaranan sudah mulai pudar di masyarakat. “Kalau saya hanya membuat topeng tanpa ada komunitas seni jaranan percuma. Soalnya, kesenian itu akan hidup jika ada komunitas dan selalu ada pertunjukan,” imbuhnya.
Pada tahun 2019 itu pula, Agus mengajak pemuda di sekitar rumahnya untuk bersama-sama melestarikan seni jaranan. Dengan adanya komunitas kesenian itu, seni jaranan akan dikenal oleh masyarakat. Sampai saat ini Agus terus berusaha dan semangat melestarikan seni jaranan di Jember. Dia juga menjadi perajin hingga sekarang. (c2/nur)
Editor : Safitri