BACA JUGA : Waspadai Gejala Awal Sariawan Ternyata Bisa ke Kanker
Terlebih lagi, Tanoker Ledokombo mampu tampil di Jakarta dalam acara memperingati Nahdlatul Ulama (NU) Women Festival bertema Perempuan NU Berdaya dan Bekarya. Farha Ciciek selaku Direktur Tanoker Ledokombo serta pendamping dari tim tari egrang turut senang karena ada anak Jember yang tampil di acara NU Women Festival. Dalam rangka 100 tahun Nahdlatul Ulama (NU), para hadirin berkolaborasi antara perempuan NU dari berbagai kalangan usia. “Saya sendiri ikut bangga karena Komunitas Tanoker Ledokombo bisa turut hadir dan dianggap komunitas ini merupakan suatu hal yang sangat unik,” ujarnya.
Dalam kesempatan kali ini, anak-anak Tanoker Ledokombo bersama wakil Sekolah Bok-Ebok, dan Sekolah Eyang Ledokombo akan menampilkan tarian egrang yang menggambarkan keceriaan dan optimisme anak-anak desa yang dilingkupi kebersamaan antargenerasi nan elok. “Dalam kesempatan kali ini, tim Komunitas Tanoker Ledokombo mempersembahkan tarian dengan tema Cahaya Egrang untuk NU dan bangsa,” tegasnya.
Farha Ciciek menambahkan, tampil di acara NU Women Festival tersebut sekaligus memperkenalkan salah satu wilayah di Jember, yaitu Ledokombo. Menurutnya, tampil di event tersebut adalah kesempatan yang luar biasa karena Ledokombo bisa turut membuktikan bahwa tari-tarian dan permainan tradisional bisa bangkit kembali. Apalagi tidak hanya anak-anak saja yang bisa menghibur para penonton, namun juga ibu-ibu sampai eyang-eyang bisa ikut serta. “Mudah-mudahan ini bisa menjadi suatu pengalaman berharga dan bisa terus sukses untuk penampilan ke depannya,” bebernya.
Ciciek berpesan, berprestasi itu bisa di mana saja dan kapan saja. Tidak hanya di sekolah, namun bisa di luar sekolah. Bahkan untuk berprestasi itu tidak kenal usia. Tak hanya itu, dukungan dari pemerintah untuk komunitas seni budaya dan lainnya pun harus terus dilakukan. “Dengan bermodalkan niat dan serius menekuni karya, semua kesempatan pasti akan terlaksana,” imbuhnya.
Harapan Cicik ke depan adalah Tanoker Ledokombo bisa menginspirasi banyak masyarakat bahwa kesenian, budaya, tari tradisional bisa terus dikembangkan sampai kapan pun. Kuncinya, lanjutnya, bersungguh-sungguh dan kerja keras untuk bisa tampil di tingkat nasional. “Dari kegiatan ini bisa dilihat bahwa orang-orang desa masih bisa berkarya dan bersaing di kancah nasional,” pungkasnya. (mg1/c2/dwi)
Editor : Safitri