BACA JUGA : Stadion JSG Hanya untuk Event Besar
Tak lama setelah menunjukkan kebolehannya menari dengan egrang, mereka terlihat kaget saat disapa oleh Jawa Pos Radar Jember. Dengan ekspresi yang cukup canggung, mereka pun menjelaskan keasyikan bermain dan menari egrang kepada Jawa Pos Radar Jember.
Pagi itu, sambil duduk di bangku kayu yang cukup unik, mereka menjelaskan berbagai prestasi yang sudah diraih. Lima orang penari egrang, di antaranya Putri Eka, Suliswati Aulia, Dwi Rodhotul Jannah, Silvia Novita, dan Noviana Nur Hayati berhasil meraih juara pertama pada Kompetisi Reaksi tahun 2019 yang diselenggarakan oleh Universitas Pembangunan Negeri Veteran Yogyakarta.
Tak hanya itu, kebolehannya dalam menari menggunakan egrang juga berhasil menyabet juara dua dalam Festival Olahraga Tradisional Tingkat Nasional ke-12 yang diadakan di Solo pada Agustus lalu. “Kalau lomba egrang di Tanoker tim kita langganannya juara, sampai pernah tidak boleh ikut,” jelas Putri Eka, salah seorang anggota penari egrang Tanoker Ledokombo asal Desa Ledokombo, Kecamatan Ledokombo.
Putri menjelaskan, pencapaian itu tidak begitu saja mereka raih. Setiap hari mereka harus terus berlatih koreografi tarian. Dengan berdiri di atas egrang, tak jarang salah satu dari mereka jatuh sampai terluka. “Ada perjuangan yang cukup besar untuk bisa sejauh ini,” imbuhnya.
Awal mereka berlima main egrang dimulai sejak kelas lima SD. Keaktifannya bermain dan belajar di Kampung Wisata Tanoker setiap pulang sekolah membuat kelima anak berprestasi itu kenal dan jatuh cinta kepada permainan egrang. Namun, lambat laun salah seorang personel penari egrang, Novi, merasa kurang kalau hanya bermain egrang saja.
Berangkat dari situ, Novi mengusulkan kepada teman-temannya untuk membentuk tim tari egrang yang beranggotakan lima personel. Tak butuh waktu lama, usul mendapat persetujuan dari teman-temannya. Kemudian, dirinya mengusulkan idenya kepada pendiri Kampung Wisata Tanoker, Farha Ciciek. “Saat saya mengusulkan, Bu Ciciek langsung mau dan tambah senang,” jelas Novi sambil tersenyum.
Dari situ juga tim tari egrang Tanoker terbentuk. Beranggotakan lima orang anak SD, kala itu. Berbagai koreografi tari mulai dibuat. Berlatih setiap hari selalu dilakukan setelah pulang sekolah. Mereka sangat bersemangat dengan terbentuknya tim tari egrang Tanoker.
Sementara itu, Ciciek menjelaskan, ide anak-anak yang muncul harus didukung. Seperti ketika anak-anak ingin membentuk tim tari egrang. “Kita hanya membantu mendukung dan memfasilitasi mereka untuk berkreasi. Perkembangan mereka cukup pesat juga,” terangnya.
Melihat perkembangan penari egrang Tanoker yang cukup memuaskan. Ciciek memutuskan untuk mencoba menampilkan mereka dalam Festival Egrang yang digelar di Kecamatan Ledokombo. Tak disangka, ternyata banyak penonton yang terpukau dengan penampilan mereka. Mengetahui hal tersebut, dirinya kemudian memberanikan diri untuk mengikutkan penari egrang Tanoker ke lomba tingkat nasional. “Hasilnya sangat memuaskan, berhasil juara walau masih pertama,” pungkasnya. (c2/nur)
Editor : Safitri