Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kenalkan Sejarah Ngawi Lewat Pameran Foto

Safitri • Selasa, 21 Juni 2022 | 01:20 WIB
Caption: Pameran arsip digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Ngawi menyuguhkan literatur sejarah kabupaten ini sejak 1839. Kegiatan itu dilakukan untuk mengedukasi generasi muda terkaut sejarah Kabupaten Ngawi. (ASEP SYAEFUL BACHRI/JAWA POS RADAR NGAWI
Caption: Pameran arsip digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Ngawi menyuguhkan literatur sejarah kabupaten ini sejak 1839. Kegiatan itu dilakukan untuk mengedukasi generasi muda terkaut sejarah Kabupaten Ngawi. (ASEP SYAEFUL BACHRI/JAWA POS RADAR NGAWI
NGAWI, RADARJEMBER.ID- Puluhan pigura tergantung di ruang pameran Perpustakaan Daerah dan Arsip Ngawi. Bingkai kayu beragam ukuran itu bukan memajang lukisan, melainkan arsip sejarah kabupaten ini dari periode 1839 hingga 1990-an.

BACA JUGA: Batal Digelar Ada Aroma Seks 

Dinas perpustakaan dan kearsipan setempat menggelar pameran arsip itu selama tiga hari mulai . Literatur sejarah tersebut berupa foto, kliping koran, dan buku. Selain itu ada arsip Benteng Van den Bosch, Radjiman Wedyodiningrat, kunjungan Presiden Soekarno.

Selain itu ada pula kegiatan seni budaya tempo dulu,’’ kata Kartikawari Pinilih, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Ngawi.Pinilih menuturkan, pameran arsip untuk mengenalkan sejarah Ngawi lintas masa kepada masyarakat.

Sebagian warga menganggap sepele arsip. Padahal, lembaran dokumen, foto, dan koran tersebut dapat menambah khazanah pengetahuan. Pihaknya terus berupaya menelusuri keping demi keping sejarah kabupaten ini dalam bentuk arsip.

Menurut Habiburiza, salah seorang pengunjung, pameran arsip perlu didatangi anak muda. Dokumentasi disajikan memuat kondisi dan peristiwa penting di masa lampau, apa lagi literatur berupa buku tentang Ngawi belum banyak ditulis,’

Habib, sapaan akrab Habiburiza, merasa arsip yang dipamerkan belum begitu lengkap. Kendati demikian, dirinya cukup puas. Ia jadi lebih tahu peristiwa terjadi di masa lalu, pemuda 22 tahun itu memberikan saran agar pameran arsip ke depannya tidak hanya di satu lokasi. (*)

 

Editor:Winardyasto

Foto:Asep Syaeful Bachri

Sumber Berita: Jawa Pos Radar Madiun Editor : Safitri
#sejarah