BACA JUGA : Situ Bagendit Miliki Peluang Jadi Ikon Wisata Garut
Mulai dari seni tari hingga lukisan ditampilkan di J-Klab tersebut. Salah satu seni tari yang ditampilkan dalam acara pembukaan kemarin adalah tarian dari Sanggar Kartika Budaya. Mengusung tema lingkungan hidup, tarian yang diberi nama Tari Lestari Alamku itu memberikan kesan kembali ke alam.
“Kami mempersiapkan tari ini untuk acara hari ini (kemarin, Red) dan tanggal 5 Juni nanti yang diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup, makanya mengusung tema lingkungan,” ujar Enys Kartika, founder Sanggar Kartika Budaya.
Tarian tersebut diciptakan tiga orang pemuda murid dari Sanggar Kartika Budaya. Mereka adalah Adi Bagus, Desi Rani, dan Khafidatul. Enys menjelaskan, tarian tersebut adalah bentuk ajakan kepada masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan. Dengan adanya pementasan tari itu, masyarakat diharapkan lebih sadar untuk menjaga hutan dan merawat bumi.
“Sekarang bumi sudah penuh dengan bangunan. Tidak ramah pada lingkungan. Jadi, tari ini diciptakan untuk mengajak masyarakat menjaga dan melestarikan alam untuk anak cucu kita nanti,” ungkapnya.
Pakaian yang dikenakan si penari pun memiliki arti tersendiri. Sanggar Kartika Budaya menyiapkan properti tari berupa caping dan ranting pohon. Caping sebagai simbol gotong royong yang biasa digunakan masyarakat dulu ketika bergotong royong sebagai pelindung dari panas sinar matahari. Ranting pohon menyimbolkan kekeringan dan pepohonan yang rusak. (c2/bud) Editor : Safitri