Ta-butaan terbuat dari bahan dasar kayu atau bambu. Ornamennya khas dengan busana seperti manusia. Sejak dulu kesenian ini banyak digemari orang, termasuk diundang saat ada acara nikahan maupun khitanan. Juga acara selamatan desa maupun kegiatan kenegaraan. Serta kerap memeriahkan hari-hari besar seperti peringatan kemerdekaan.
Taufiq kini menjadi penerus yang melestarikan budaya tersebut. "Kesenian ta-butaan bukan sekadar cerita dan kesenian. Melainkan menjadi suatu ritual yang selalu rutin dilakukan pada saat acara resik desa setiap tahunnya. Biasanya setelah panen raya kedua," jelasnya, kemarin (2/3).
Dijelaskan, ta-butaan merupakan salah satu budaya tertua yang ada di Kabupaten Jember, khususnya Jember bagian utara. “Ta-butaan berasal dari bahasa Madura. Jika di ke bahasa Jawa berarti butho yang berarti raksasa,” jelasnya.
Di daerah Jember utara terdapat sekitar 23 lebih kelompok sanggar kesenian ta-butaan. Di antaranya di Desa Jelbuk, Desa Pakusari, Desa Darsono, Desa Arjasa, Desa Candi Jati, Desa Panduman, termasuk di Desa Kamal. (mg2/c2/nur)
Editor : Safitri