Hal itu diperparah dengan tidak adanya langkah ataupun kebijakan khusus pemerintah untuk melindungi mereka. Padahal tiap kali hajatan yang dihelat pemerintah daerah, mereka kerap tampil. Namun, saat pagebluk ini, geliat mereka seolah lenyap dari peredaran. Kondisi inilah yang dirasakan seniman dan pegiat budaya di Jember. Selama ini, mereka kesulitan mendapat tempat di masyarakat lantaran pandemi yang belum diketahui sampai kapan akan berakhir ini. “Sejak pandemi (2020 lalu, Red) sudah libur total,” keluh Sujito, dalang sekaligus pemilik sanggar wayang asal Desa Sabrang, Kecamatan Ambulu.
Saat ditemui di rumahnya, Mbah Jito, sapaan akrabnya, tak banyak yang ia dilakukan. Setiap harinya, dalang senior ini hanya beraktivitas seperti masyarakat umumnya. Tidak ada kegiatan ataupun kesibukan khusus terkait kebudayaan yang ditekuni. “Paling-paling ke pasar tiap pagi. Setelah itu, juga nyambi-nyambi mobil klasik ini,” ucap kakek 63 tahun ini sambil menunjukkan tiga koleksi mobil klasiknya keluaran 80-an.
Padahal hari-hari biasa, jika sebelum pandemi, banyak masyarakat yang mendatangkan kesenian tradisional seperti wayang ini. Terlebih saat bulan Sura atau Muharram, menjadi momentum yang paling banyak agenda pementasan. “Saya sendiri, ada enam lokasi yang sebelumnya terjadwal, tapi semuanya dibatalkan,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Jember.
Pria yang sejak era 70-an telah mendalang ini menyayangkan sepinya pementasan itu. Bukan karena minim pemasukan, namun karena tidak bisa lagi mengembangkan seni dan budaya. Khususnya wayang kulit yang ditekuni sejak masih kelas lima SD itu. Apalagi, eksistensi kesenian seperti itu tiap tahun semakin berat tantangannya, karena generasi yang berminat meneruskan kesenian itu semakin sedikit. “Ada Dalang Edi Karanganyar Ambulu, itu murid saya. Sebenarnya anak didik ada, tapi sulit mengembangkannya, karena untuk latihan saja sulit. Tidak bisa,” keluhnya.
Di rumahnya sendiri, tepat di pinggir Jalan Watu Ulo, Desa Sabrang, Kecamatan Ambulu, berbagai perlengkapan manggung masih utuh. Seperti gender, kenong, dan gong, serta beberapa tempat alat musik lainnya. Sekian jenis perlengkapan itu tampak mulai berdebu. Hal itu menunjukkan bahwa gamelan tersebut sudah lama tidak terpakai.
Sejak adanya pandemi, kakek tiga cucu ini mengaku tidak punya banyak pilihan. Kendati hari ini ia masih disibukkan dengan aktivitas ke pasar dan merawat mobil klasiknya, namun jauh di benaknya, Mbah Jito mengaku masih menyimpan mimpi besar, wayang dan segala kebudayaan itu bisa kembali berjaya.
Berharap Ada Wadah Manggung
KONDISI serupa juga dialami oleh seni tradisional jaranan atau kuda lumping. Sejak pagebluk, mereka juga vakum karena nyaris tidak manggung. Padahal, pementasan itu dinilai oleh pekerja seni tak hanya menjadi ladang ekonomi, tapi juga merawat tradisi. Sebab, mereka juga meyakini, seni budaya bakal tetap lestari jika terus dimainkan dalam panggung-panggung. "Sekarang, kami sudah vakum," ungkap Cucuk Sudariyanto, pembina sekaligus perintis Komunitas Jaranan Singo Gendeng asal Talangsari, Kelurahan Jember Kidul, Kaliwates.
Kepada Jawa Pos Radar Jember, Cucuk mengaku, telah lama komunitas seninya tidak manggung. Seingat dia, sebelum pemilihan bupati (pilbup) lalu. Sekitar akhir 2020 atau awal 2021. "Kapan ya? Pokoknya sebelum pilbup kemarin ini," ungkap pria 45 tahun tersebut sembari mengingat pementasan terakhir yang berujung pembubaran. Meski ingatannya tentang waktu pementasan kabur, tapi Cucuk tak pernah lupa bagaimana panggung seninya itu dibubarkan.
Saban Kamis malam Jumat Legi, komunitasnya kerap mengadakan pementasan di sekitar Lingkungan Talangsari. Namun, pada pementasan terakhir itu, di tengah seni jaranan sedang berlangsung, ponsel Cucuk berdering berulang-ulang. Dari seberang, seorang anggota polisi menelepon dia, kemudian meminta agar acara itu dibubarkan. Dia tidak tahu, apakah ada salah seorang warga yang melapor atau bagaimana. "Beliau menegur dan menyuruh kami menghentikan pementasan," ucapnya.
Sebenarnya, tak ada inisiasi pembubaran secara langsung. Bahkan, jika pergelaran diteruskan, hal itu masih memungkinkan. Namun, dia memilih taat hukum. Dengan meminta maaf kepada masyarakat yang antusias dan hadir saat itu. Selanjutnya, dia bersama pekerja seni yang lain mengemasi properti dan segera pulang. Meski terkesan sepele, tapi psikologis kelompoknya sangat terpukul. "Tapi, mau bagaimana lagi. Biar tidak jadi wadah penularan virus," terangnya.
Bagaimana eksistensi komunitasnya sekarang? Cucuk mengungkapkan, setelah vakum, semua anggota komunitas kembali ke rutinitas masing-masing. "Kalau pas kumpul, sebatas merawat peralatan jaranan biar tidak rusak," ucapnya.
Selain berdampak terhadap eksistensi seni dan tradisi, pelarangan manggung itu juga berimbas terhadap pendapatan dan ekonomi. Menurut dia, ada beberapa anggota yang sebelumnya menyambung hidup dengan berjualan topeng saat pergelaran digelar, kini sudah tidak bisa lagi. Mereka pun akhirnya banting setir dengan mencari pekerjaan lain. Kebanyakan bekerja serabutan. Namun lagi-lagi, kondisinya sama saja. Sepi. Sebab, juga terdampak pandemi.
Sebenarnya, kata Cucuk, dia dan anggota komunitas tidak menjadikan kesenian jaranan sebagai sarana mencari duit. Ada atau tidak uang hasil pementasan, bagi mereka tidak masalah. “Kami ini ingin nguri-nguri (melestarikan, Red) budaya kok. Karena memang ada tujuan lain,” ujarnya.
Dia mengungkapkan, tujuan lain dari pementasan seni itu adalah menjadi wadah kreativitas pemuda di kampungnya. Sehingga mereka tidak terjerumus dalam penyalahgunaan obat berbahaya, atau sampai terlibat perbuatan pidana. Dengan tiadanya pementasan ini, Cucuk menjadi khawatir jaranan maupun kesenian tradisional bakal luntur dan dilupakan.
Cucuk pun berharap, pemerintah tanggap untuk memberikan wadah kepada seluruh kesenian tradisional di Jember. Apalagi, masyarakat Jember ini butuh pelipur lara atas dampak yang mereka rasakan akibat pandemi Covid-19. Salah satunya dengan menonton pertunjukan seni. "Kalau ada peluang, semoga kami bisa manggung. Meski tanpa penonton, tapi bisa disaksikan seluruh warga Jember secara daring,” pungkasnya.
Jurnalis: Isnein Purnomo
Grafis: Cecep Arjiansyah
Editor: Mahrus Sholih Editor : Safitri