Kemarin (20/5), mereka menyerukan penolakan atas berdirinya pabrik oleh PT Indah Karya Palaywood. Sebagai bentuk protes, para aktivis itu memagari situs-situs di sekitar pembangunan pabrik menggunakan bambu dan tali rafia. Itu karena di kawasan seluas 3 hektare tersebut akan dibangun pabrik pengolahan yang dinilai mengancam nilai kesejarahan.
"Ini merupakan gerakan cinta yang murni lahir dari anak muda dan masyarakat Bondowoso. Kita mengumpulkan bambu-bambu ini secara swadaya. Tali rafia juga kita galang donasi seikhlasnya,” tutur Afif, salah satu anggota MPCB.
Gerakan pagar rafia ini, Afif menjelaskan, dimaksudkan untuk menyampaikan kepada seluruh masyarakat Bondowoso bahwa kabupaten ini merupakan daerah yang memiliki situs peninggalan sejarah yang sangat unik dan banyak. Bahkan, yang teregister saja ada sekitar 1.600 batu megalitikum se-Bondowoso. Lain lagi yang belum ditemukan.
Ini merupakan hal yang perlu dijaga, dirawat, dan dilestarikan. "Dengan pagar rafia ini, kami bermaksud mengamankan dan menyelamatkan nilai sejarah dan identitas Bondowoso agar tidak dipindah, apalagi dirusak,” tambah Afif.
Perlu diketahui, MPCBB merupakan solidaritas dari berbagai komunitas anak muda se-Bondowoso. Di antaranya, Relawan Muda Bondowoso (RMB), Bondowoso Tempoe Doeloe, Gusdurian Bondowoso, Pemuda Megalith Bondowoso, K-Cong Bondowoso, Bonvika, dan elemen lainnya. (*) Editor : Radar Digital