Radar Jember - Di tengah padatnya rangkaian ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), ada satu hal yang justru paling membekas bagi jemaah haji Jember, Regar Jeane Dealen Nangka.
Bukan tentang panasnya cuaca atau jauhnya perjalanan, melainkan pemandangan sederhana ketika jutaan manusia saling membantu tanpa memandang asal negara, bahasa, maupun latar belakang.
Jemaah Kloter 97 Jember yang berangkat melalui KBIHU Al Ghazalie itu mengaku, pengalaman selama puncak haji memberinya pelajaran berharga tentang arti persaudaraan.
Menurutnya, Armuzna bukan hanya menjadi puncak ritual ibadah, tetapi juga ruang pertemuan berbagai bangsa yang datang dengan tujuan yang sama, yakni memenuhi panggilan Allah.
Saat menjalani wukuf di Arafah, Regar merasakan suasana yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Hamparan tenda putih yang dipenuhi jutaan jemaah menghadirkan perasaan haru sekaligus refleksi mendalam.
Banyak jemaah larut dalam doa, memohon ampunan dan berharap dapat kembali ke tanah air sebagai pribadi yang lebih baik.
“Di Arafah itu rasanya seperti diingatkan kembali tentang kehidupan. Kita mengingat kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan dan berharap Allah memberi kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik setelah pulang,” tuturnya.
Momen berikutnya yang tak kalah berkesan adalah saat tahalul atau mencukur rambut setelah menyelesaikan rangkaian ibadah tertentu. Prosesi yang tampak sederhana itu justru menghadirkan rasa lega sekaligus haru.
Baginya, tahallul menjadi simbol dimulainya lembaran baru dalam kehidupan seorang muslim. “Ketika rambut dicukur, ada perasaan lega yang sulit dijelaskan. Dalam hati hanya berharap seluruh ibadah diterima dan segala kekurangan selama berhaji diampuni,” katanya.
Sementara itu, saat melaksanakan lempar jumrah di Mina, Regar merasakan makna yang lebih dalam dibanding sekadar melempar batu ke tiga titik jumrah.
Prosesi tersebut menjadi pengingat agar manusia mampu melawan sifat-sifat buruk yang kerap muncul dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari ego, amarah, hingga kesombongan.
Namun, dari seluruh pengalaman selama Armuzna, hal yang paling membekas justru kepedulian antarsesama jemaah.
Ia menyaksikan banyak tindakan sederhana yang sarat makna, mulai dari jemaah muda yang membantu mendorong kursi roda lansia, berbagi air minum kepada orang yang tidak dikenal, hingga membantu jemaah dari negara lain yang kesulitan mencari arah.
“Di tanah suci, jutaan orang yang tidak saling mengenal bisa menjadi saudara. Hal-hal kecil seperti itu yang justru paling menyentuh hati,” pungkasnya. (dhi/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh