Radar Jember – Puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) mulai berlangsung kemarin (25/5).
Cuaca ekstrem dan tingginya kepadatan jemaah menjadi tantangan tersendiri karena berpotensi meningkatkan risiko kelelahan, terutama bagi jemaah lanjut usia (lansia) dan risiko tinggi (resti).
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Jember, Nur Sholeh, menegaskan bahwa jemaah lansia dan resti menjadi prioritas utama pelayanan haji tahun ini.
Kelompok tersebut mendapat perhatian khusus karena kondisi fisik yang lebih rentan saat menjalani rangkaian puncak ibadah di Armuzna.
Baca Juga: Jamaah Haji Indonesia Hilang, Kemenhaj Bentuk Tim Lakukan Pencarian
Menurutnya, skema pelayanan haji tahun ini dirancang lebih ramah bagi jemaah lansia dan penyandang disabilitas. “Haji tahun ini adalah haji berkeadilan, ramah lansia, dan ramah disabilitas,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pemerintah telah menyiapkan petugas khusus layanan lansia dan disabilitas (landis) guna memastikan jemaah resti mendapatkan pendampingan optimal selama pergerakan di Armuzna.
Petugas tersebut difokuskan untuk membantu mobilitas jemaah, penggunaan kursi roda, hingga pemantauan kondisi kesehatan secara berkala di lapangan.
Nur Sholeh menambahkan, penanganan jemaah lansia dan resti tidak hanya dilakukan petugas khusus, tetapi juga melibatkan ketua kloter, pembimbing ibadah, tenaga kesehatan, dan paramedis.
“Di kloter sendiri kami memberikan perhatian, baik oleh ketua kloter, pembimbing ibadah, maupun tenaga kesehatan dan paramedis,” katanya.
Selain itu, tantangan cuaca panas dan kepadatan jemaah juga menjadi perhatian serius. Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan risiko kelelahan, khususnya bagi jemaah lansia dan resti.
Karena itu, pemerintah menyiapkan berbagai langkah mitigasi, termasuk pengaturan pergerakan jemaah yang lebih ketat dan terukur.
Pemerintah juga menyediakan sejumlah fasilitas pendukung, seperti tenda berpendingin udara, akses layanan kesehatan yang lebih cepat, serta pengaturan arus jemaah yang lebih ramah bagi lansia.
Upaya tersebut dilakukan untuk meminimalisasi risiko kesehatan selama puncak ibadah haji.
Selain itu, diterapkan pula skema murur bagi jemaah lansia dan resti sehingga mereka tidak perlu turun di Muzdalifah dan dapat langsung melanjutkan perjalanan ke Mina.
Skema ini diharapkan mampu mengurangi kepadatan sekaligus menjaga kondisi jemaah tetap stabil.
Baca Juga: Mendarat di Jeddah, Kloter Terakhir Haji Jember Langsung Dikepung Cuaca Panas Ekstrem Arab Saudi!
Di akhir keterangannya, Nur Sholeh mengimbau keluarga jemaah di tanah air agar tetap tenang dan terus mendoakan kelancaran ibadah haji.
Ia memastikan seluruh petugas telah disiagakan untuk mendampingi jemaah lansia dan resti agar dapat menjalankan rangkaian ibadah dengan aman dan tertib selama momentum Armuzna. (dhi/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh