Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Menelusuri Jejak Mbah Priok: Ulama, Makam, dan Warisan Ziarah

Redaksi Radar Jember • Selasa, 20 Januari 2026 | 13:38 WIB
Suasana Haul Mbah Priok - Sumber foto: Media budaya Indonesia
Suasana Haul Mbah Priok - Sumber foto: Media budaya Indonesia

RADAR JEMBER - Nama Mbah Priok mungkin tak asing di telinga warga Jakarta Utara dan para peziarah dari berbagai daerah di Indonesia.

Makamnya yang terletak di kawasan Koja, Tanjung Priok, selalu ramai diziarahi, terutama saat haul tahunan digelar.

Namun siapa sebenarnya Mbah Priok?

Mbah Priok adalah panggilan akrab dari Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad, seorang ulama asal Hadramaut, Yaman.

Ia dikenal sebagai pendakwah yang datang ke Batavia (sekarang Jakarta) pada abad ke-18 untuk menyebarkan ajaran Islam.

Saat datang, beliau membawa peralatan shalat yang disimpan dalam periuk tanah liat, dan dari sinilah nama "Priok" berasal.

Periuk tersebut dipercaya warga memiliki nilai spiritual tinggi dan menjadi simbol keberkahan.

Habib Hasan dikenal sebagai sosok alim yang rendah hati, serta aktif mengajarkan Islam kepada penduduk lokal di wilayah pesisir.

Menurut cerita turun-temurun, Mbah Priok wafat dan dimakamkan di kawasan Tanjung Priok, namun sempat beberapa kali direlokasi karena pembangunan pelabuhan.

Pada awal 2000-an, sempat terjadi konflik antara warga dan aparat saat makam Mbah Priok hendak dipindahkan.

Warga menolak pemindahan karena makam tersebut dianggap keramat dan menjadi tempat ziarah penting.

Peristiwa ini dikenal sebagai Tragedi Makam Mbah Priok pada tahun 2010, yang menewaskan beberapa orang dan memicu gelombang protes.

Akhirnya, pemerintah memutuskan untuk tetap membiarkan makam berada di lokasi sekarang dan menjadikannya situs ziarah religius.

Kini, makam Mbah Priok tidak hanya menjadi tempat spiritual, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi warga sekitar melalui wisata religi.

Ziarah ke makam ini tidak pernah sepi, terutama pada malam Jumat dan bulan-bulan tertentu seperti Maulid dan haul.

Haul Mbah Priok biasanya digelar pada 1–2 September setiap tahun, dihadiri ribuan jamaah dari berbagai wilayah, bahkan luar Jawa.

Mereka datang untuk mendoakan, berziarah, dan mendengarkan ceramah dari ulama kharismatik.

Beberapa tokoh nasional, termasuk pejabat dan dai ternama, tercatat pernah menghadiri haul ini sebagai bentuk penghormatan pada ulama terdahulu.

Tradisi haul ini memperkuat hubungan spiritual antara generasi sekarang dengan ulama masa lalu yang telah berjasa dalam dakwah Islam.

Bagi sebagian orang, ziarah ke makam Mbah Priok bukan hanya soal tradisi, tapi juga tentang mengenang perjuangan menyebarkan Islam secara damai.

Penulis: Ailatul Miza Zulfa

Editor : M. Ainul Budi
#mbah priok #Warisan #ziarah #Jakarta #haul