Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Tak Sekadar Doa: Haul dan Jejak Budaya yang Tetap Lestari

Redaksi Radar Jember • Jumat, 16 Januari 2026 | 21:05 WIB
Haul dan Politik Simbolik: Ketika Doa Kolektif Menjadi Panggung Kekuasaan
Haul dan Politik Simbolik: Ketika Doa Kolektif Menjadi Panggung Kekuasaan

RADAR JEMBER - Di tengah gempuran budaya pop dan dunia digital, haul tetap bertahan sebagai salah satu tradisi keagamaan dan kebudayaan yang paling hidup di Indonesia.

Bukan hanya acara religius, haul kini menjadi panggung budaya yang menghidupkan nilai-nilai tradisional di tengah masyarakat.

Di banyak desa hingga kota, haul mampu menyatukan beragam unsur budaya: dari tahlilan, pengajian, sampai kuliner khas daerah.

Dalam haul Mbah Priok misalnya, kita bisa melihat percampuran budaya Betawi, Arab, dan Islam Nusantara dalam satu rangkaian.

Tak jarang pula, ada penampilan marawis, qosidah, barzanji, bahkan pertunjukan budaya lokal seperti palang pintu.

Tradisi haul juga memperkuat hubungan antargenerasi.

Anak muda yang mungkin tidak pernah bertemu langsung dengan tokoh yang diperingati, tetap bisa merasa terhubung lewat nilai-nilai dan kisah hidup tokoh tersebut.

Inilah warisan budaya tak benda yang terus diwariskan secara lisan dan kolektif dari generasi ke generasi.

Menurut Dr. Nurcholish Madjid (alm), haul adalah bentuk nyata dari budaya "living tradition", tradisi yang hidup dan terus berkembang bersama masyarakat.

Ia menyebut bahwa masyarakat Indonesia sangat kuat dalam mempertahankan tradisi spiritual, yang mengakar pada budaya lokal dan keislaman.

Dampak budaya lainnya adalah terbentuknya solidaritas sosial. Haul menciptakan ruang berkumpul yang terbuka, inklusif, dan egaliter.

Mereka yang datang dari berbagai latar belakang merasa diterima, karena haul bukan milik satu golongan atau ormas tertentu.

Di sisi lain, haul juga menjadi simbol perlawanan budaya terhadap arus komersialisasi dakwah.
Di tengah maraknya ustaz viral, haul tetap menawarkan nuansa dakwah yang sejuk, tidak provokatif, dan berpijak pada adab serta kebijaksanaan.

Tak heran, haul dianggap lebih "adem", lebih membumi, dan tidak menyulut kontroversi seperti ceramah-ceramah yang sensasional.

Dengan semua unsur budaya yang terlibat dari bahasa, pakaian, kuliner, hingga seni suara, haul menjelma menjadi kekayaan budaya spiritual yang hidup dan terus tumbuh.

Penulis: MG25 Ailatul Miza Zulfa

Editor : M. Ainul Budi
#budaya betawi #mbah priok #haul #budaya pop