RADAR JEMBER - Perayaan Paskah yang dirayakan umat Kristiani setiap tahun bukan hanya menjadi momen refleksi iman dan kebangkitan spiritual, tetapi juga menjadi peluang emas untuk memperkuat nilai-nilai toleransi antar umat beragama di Indonesia.
Di tengah keragaman suku, agama, dan budaya yang menjadi ciri khas bangsa, Paskah hadir sebagai waktu yang tepat untuk menegaskan kembali pentingnya hidup berdampingan secara damai dan saling menghargai perbedaan.
Paskah, yang memperingati kebangkitan Yesus Kristus dari kematian, sarat dengan pesan cinta kasih, pengampunan, dan harapan.
Nilai-nilai inilah yang sejatinya universal, dapat diterima dan dijalankan oleh siapapun tanpa memandang latar belakang agama.
Dalam konteks masyarakat Indonesia yang pluralistik, nilai-nilai tersebut menjadi jembatan yang menghubungkan antar kelompok, memperkuat ikatan sosial, dan mencegah potensi konflik yang disebabkan oleh prasangka dan intoleransi.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai upaya untuk mempererat kerukunan umat beragama terus digalakkan, baik oleh pemerintah, tokoh agama, maupun organisasi kemasyarakatan.
Salah satunya terlihat pada perayaan Paskah di berbagai daerah, suasana kebersamaan begitu terasa.
Tidak sedikit masyarakat non-Kristiani yang ikut membantu menjaga keamanan gereja, ikut serta dalam kegiatan sosial, bahkan mengucapkan selamat Paskah kepada tetangga dan rekan kerja yang merayakannya.
Di Yogyakarta, misalnya, sekelompok pemuda lintas agama menggelar kegiatan bertajuk “Paskah dalam Damai” yang diisi dengan bakti sosial, diskusi lintas iman, dan doa bersama.
Menurut koordinator acara, kegiatan ini bertujuan menunjukkan bahwa Paskah tidak hanya bermakna bagi umat Kristiani, tetapi juga membawa pesan perdamaian yang relevan bagi semua orang.
“Kami ingin menunjukkan bahwa kebersamaan dalam keberagaman itu nyata. Paskah adalah momen yang indah untuk mempererat silaturahmi dan saling memahami,” ujar Dimas Wijaya, salah satu panitia yang beragama Islam
Sementara itu, di Jakarta, tokoh lintas agama seperti Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof.
Haedar Nashir menyampaikan pesan bersama agar masyarakat tidak terprovokasi oleh isu-isu intoleransi.
Mereka mengajak seluruh umat untuk menjadikan perbedaan sebagai kekayaan, bukan sumber perpecahan.
Mantan Presiden Joko Widodo juga menyampaikan ucapan Selamat Paskah melalui akun media sosial resminya.
Ia menekankan pentingnya solidaritas dan toleransi dalam membangun bangsa yang damai. “Semoga semangat Paskah membawa damai dan pengharapan baru bagi seluruh rakyat Indonesia. Mari terus jaga persatuan dalam kebhinekaan,” tulisnya.
Namun di balik semua momen positif ini, tantangan toleransi tetap ada. Laporan sejumlah lembaga menunjukkan masih adanya kasus diskriminasi, ujaran kebencian, dan kekerasan berbasis agama yang terjadi di beberapa wilayah.
Oleh karena tu, momen seperti Paskah penting untuk dimanfaatkan sebagai ruang dialog, pendidikan perdamaian, dan penguatan karakter toleran, terutama di kalangan generasi muda.
Pakar sosiologi agama dari Universitas Indonesia, Dr. Maria Retno Sari, menyebutkan bahwa perayaan keagamaan harus dilihat sebagai peluang untuk mempererat hubungan sosial, bukan hanya seremoni ritual.
“Setiap perayaan keagamaan mengandung nilai-nilai moral yang bersifat universal. Jika ini dikomunikasikan secara terbuka dan inklusif, akan tercipta pemahaman lintas iman yang lebih kuat,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa media dan lembaga pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk budaya toleransi.
Pemberitaan yang seimbang dan pendidikan karakter yang menanamkan nilai empati, saling menghargai, serta kebersamaan harus terus diperkuat sejak dini.
Paskah 2025 ini menjadi bukti bahwa harapan akan Indonesia yang damai dan penuh toleransi bukanlah utopia.
Momen ini memberikan pengingat bahwa dalam perbedaan, terdapat ruang yang luas untuk saling mengenal, mengasihi, dan bekerja sama membangun masa depan yang lebih baik.
Seiring lonceng Paskah berdentang dan doa-doa dipanjatkan, harapan akan dunia yang lebih damai kembali menggema.
Dan di tengah gemuruh kehidupan yang penuh tantangan, semangat toleransi menjadi terang yang menuntun langkah bersama menuju persatuan.
Editor : M. Ainul Budi