radar jember - Umat Islam dianjurkan untuk berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah menunaikan puasa Ramadan.
Namun, tidak sedikit yang masih memiliki hutang puasa Ramadhan karena berbagai alasan, seperti haid, sakit, atau musafir. Pertanyaannya, bolehkah puasa Syawal digabung dengan puasa qadha Ramadhan dalam satu niat?
Ulama dari berbagai mazhab sudah membahas persoalan ini secara mendalam.
Selain hukum menggabungkan puasa, umat Islam juga perlu memahami bacaan niat yang tepat untuk masing-masing jenis puasa, termasuk jika ingin menggabungkannya.
Mayoritas ulama dari empat mazhab besar (Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan Hanbali) menyatakan bahwa menggabungkan niat puasa qadha Ramadhan dan puasa enam hari Syawal hukumnya sah, namun pahalanya tidak sempurna sebagaimana jika dilakukan secara terpisah.
Dalam mazhab Syafi’i, misalnya, puasa Syawal yang dimaksud dalam hadis Rasulullah SAW adalah puasa sunnah murni, bukan yang digabung dengan puasa wajib. Hal ini dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu’.
"Barang siapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan enam hari dari bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa sepanjang tahun." (HR. Muslim)
Jika niat digabung, maka seseorang tetap mendapatkan pahala puasa qadha, namun tidak mendapat keutamaan penuh puasa Syawal sebagaimana yang dijanjikan dalam hadis.
Bacaan Niat Puasa Syawal
Puasa enam hari Syawal merupakan ibadah sunnah yang dianjurkan. Berikut bacaan niatnya:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ سُنَّةِ شَوَّالٍ لِلّٰهِ تَعَالٰى
Nawaitu shauma ghadin ‘an sunnati Syawwāl lillāhi ta‘ālā
(Artinya: Aku niat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah Ta’ala)
Niat puasa sunnah boleh dilakukan sejak malam hari hingga sebelum tergelincir matahari (zuhur), selama belum makan atau melakukan hal yang membatalkan puasa.
Bacaan Niat Puasa Qadha Ramadhan
Puasa qadha merupakan puasa wajib bagi mereka yang meninggalkan puasa Ramadhan dengan alasan syar’i. Niatnya wajib dilakukan sebelum fajar (subuh). Berikut bacaannya:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ رَمَضَانَ لِلّٰهِ تَعَالٰى
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i Ramaḍāna lillāhi ta‘ālā
(Artinya: Aku niat puasa esok hari untuk mengganti puasa Ramadhan karena Allah Ta’ala)
Bacaan Niat Gabungan Puasa Qadha dan Syawal
Bagi yang ingin menggabungkan niat puasa qadha dan Syawal, ini bacaan niat yang dapat digunakan:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ رَمَضَانَ وَسُنَّةِ شَوَّالٍ لِلّٰهِ تَعَالٰى
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i Ramaḍāna wa sunnati Syawwāl lillāhi ta‘ālā
(Artinya: Aku niat puasa esok hari untuk mengganti puasa Ramadhan dan menjalankan puasa sunnah Syawal karena Allah Ta’ala)
Meskipun niat digabung, para ulama menyatakan bahwa pahala puasa Syawal tidak didapatkan secara sempurna, karena puasa yang dilakukan adalah puasa wajib (qadha), bukan sunnah murni.
Sedangkan menurut ulama kontemporer seperti Syaikh Yusuf al-Qaradawi menyampaikan bahwa menggabungkan niat dibolehkan jika seseorang kesulitan menyelesaikan qadha terlebih dahulu. Hal ini juga difatwakan oleh Lembaga Fatwa Dar al-Ifta Mesir dan didukung oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).
“Jika seseorang memiliki keterbatasan waktu, maka menggabungkan niat adalah solusi yang dibolehkan, dan insyaAllah tetap bernilai ibadah,” terang al-Qaradawi dalam kitab Fiqh al-Shiyam.
Bagi umat Islam yang mampu menyelesaikan qadha terlebih dahulu, sangat dianjurkan untuk segera menunaikan puasa qadha Ramadhan di awal Syawal,
kemudian melanjutkannya dengan enam hari puasa Syawal secara terpisah. Cara ini lebih aman dan memungkinkan memperoleh pahala maksimal dari dua jenis puasa tersebut.
Menggabungkan niat puasa qadha Ramadan dan Syawal adalah sah dan diperbolehkan, terutama bagi yang memiliki keterbatasan waktu. Namun, untuk meraih keutamaan puasa enam hari Syawal seperti disebut dalam hadis, disarankan agar keduanya dilakukan secara terpisah.
Editor : M. Ainul Budi