LAPORAN DARI ARAB SAUDI
MOH KHOLILI PDH KLOTER 40
MAKKAH, RADARJEMBER.ID - Jemaah haji telah melakukan puncak pelaksanaan ibadah haji, mulai dari wukuf di Arafah, mabit di Mina, hingga lempar jumrah.
Hal tersebut tentu membutuhkan tenaga yang cukup banyak. Tak heran jika sejumlah jemaah mengalami kelelahan.
Oleh sebab itu, tak jarang jemaah haji memilih istirahat terlebih dahulu, sebelum melaksanakan tawaf ifadah.
Seperti yang dialami oleh Alha, jemaah haji asal Jember kloter 40. Dia merupakan salah seorang jemaah haji lansia.
Meski dengan keterbatasan tenaga, semua rukun haji dilakukannya secara mandiri.
Dia menolak untuk diberikan fasilitas pembantu, seperti kursi roda. Termasuk tawaran untuk digantikan pekerjaannya (badal) juga ditolak.
PDH kloter 40. Moh. Kholili, mengatakan, jemaah lansia tersebut saat melakukan tawaf qudum, beberapa waktu lalu, sempat ditabrak orang yang lebih besar, hingga membuat ikatan kain ihramnya terlepas.
Saat melempar jumrah, pria paruh baya itu juga sempat pingsan, karena harus berjalan kaki dari tenda ke tempat lempar jumrah yang cukup jauh.
“Beliau semangat ketika melihat tempat lempar jumrah (marma), begitu berhasil melempar tujuh kerikil, langsung menangis haru,” imbuhnya.
Kholili juga mengaku sempat menawarkan fasilitas tambahan berupa kursi roda, untuk dibantu didorong dan digantikan pekerjaannya (badal).
Namun, yang bersangkutan dengan tegas menolak. Dia tetap bersikukuh untuk melakukannya secara mandiri.
Alasannya sangat sederhana, Alha merasa lebih sulit mengumpulkan uang untuk biaya haji daripada melakukan rukun haji.
Pasca-puncak haji, Kholili mengatakan, banyak jemaah lansia yang mengalami kelelahan. Bahkan ada yang harus dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat.
Sementara, jemaah lainnya memilih mengumpulkan stamina terlebih dahulu di hotel yang ada di Makkah, sebelum melakukan tawaf ifadah.
“Thawaf ifadah merupakan salah satu rukun haji, sebagaimana tawaf qudum dan rukun lainnya,” jelasnya.
Sementara itu, jemaah haji asal Jember kloter 38, Ahmad Danial Hasan Abda, menyampaikan, pasca-lempar jumrah dan kembali ke Makkah, jemaah haji harus melakukan tahalul (memotong rambut).
Sebelum melaksanakan tawaf ifadah. Hal ini banyak dilakukan secara mandiri, dengan alasan untuk menghemat biaya. “Jemaah haji reguler banyak yang potong sendiri, untuk berhemat,” pungkasnya. (ham/c2/nur)
Editor : Alvioniza