BIASANYA, rumah ibadah memiliki kekhasannya masing-masing. Seperti Gereja Katolik Hati Tersuci Santa Perawan Maria. Tempat ibadah ini tergolong baru dan lokasinya ada di perumahan, Kelurahan Sempusari, Kecamatan Kaliwates.
Gereja katolik tersebut sebelumnya adalah sebuah kapel atau rumah ibadah kecil. Pada saat itu hanya memiliki sekitar 50 jemaah. Seiring berjalannya waktu, jemaahnya semakin bertambah. “Karena umat yang datang ke sini hampir 2.000 umat, maka ini diperbesar,” jelas Bernard Teguh Kusdarmanto O.Carm, romo Gereja Katolik Hati Tersuci Santa Perawan Maria.
Dikatakan, tempat ibadah itu sebenarnya sudah menjadi gereja paroki sejak selesai pembangunannya pada tahun 2019. Tepat sebelum pandemi Covid-19. Sampai sekarang sudah dijadikan sebagai tempat ibadah harian dan kegiatan besarnya umat Katolik di Jember. “Wilayahnya itu daerah Kaliwates dan dari Rambipuji sampai batasnya RS Siloam,” urainya.
Dari dalam, desain interior Gereja Katolik Hati Tersuci Santa Perawan Maria tampak cukup modern. Patung Yesus dan Bunda Maria besar berada di depan, di antara salib. Patung-patung kecil lain ditempatkan di atas mengitari dinding. Romo Bernard menjelaskan, patung-patung tersebut memiliki alur cerita tentang penyaliban Yesus. “Untuk membantu kalau ada umat menjalankan puasa 40 hari,” katanya.
Setiap Jumat, umat diajak doa jalan salib. Dengan patung-patung itu, bisa tergambar secara visual bagaimana penderitaan Yesus yang kala itu memanggul salib. “Patung itu hanyalah alat saja untuk membantu. Bukan kita dewakan atau sembah, tetapi manusia butuh alat, membutuhkan satu bahasa cinta,” terangnya.
Di sisi luar, terdapat Gua Maria, yang menjadi kesatuan dari gereja tersebut. Gua tersebut terbuat dari batuan dan ditempatkan patung Bunda Maria persis di tengah gua. Dia mengulas, keberadaannya sebagai sarana relasi umat Katolik dengan Bunda Maria. “Dalam artian Maria dihormati bukan disembah, seperti di Islam yang juga menghormati karena melihat peranan dari Isa. Bahkan ada surat khusus, Surat Maryam (dalam Quran, Red),” papar Romo Bernard. (c2/nur)
Editor : Radar Digital