Radar Jember – Kasus penangkapan seorang content creator berinisial AW di Jagakarsa, Jakarta Selatan, mengejutkan publik.
AW memanfaatkan teknologi urban farming untuk membudidayakan ganja di dalam rumahnya dengan investasi peralatan mencapai Rp150 juta.
Meski kasus ini menjadi preseden buruk penyalahgunaan teknologi, tren urban farming atau pertanian perkotaan pada dasarnya merupakan gerakan positif untuk ketahanan pangan keluarga.
Mengenal Urban Farming: Solusi Lahan Sempit
Urban farming adalah praktik budi daya tanaman di area perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan.
Tren ini bertransformasi dari sekadar hobi menjadi gaya hidup sehat bagi warga di pemukiman padat.
Dengan memanfaatkan teras rumah, dinding kosong (vertikultur), hingga atap bangunan (rooftop), ruang sempit pun bisa disulap menjadi kebun sayur produktif.
Tips Memulai Urban Farming (Untuk Pemula)
- Mulai dari yang Paling Mudah: Jangan langsung membeli alat mahal. Mulailah dengan menanam bumbu dapur (cabai, tomat, daun bawang) atau sayuran daun (kangkung, bayam) yang cepat panen.
- Perhatikan Sinar Matahari: Sebagian besar tanaman sayur membutuhkan sinar matahari minimal 4-6 jam sehari. Pastikan lokasi (balkon/teras) tidak tertutup bayangan gedung tinggi sepanjang hari.
- Media Tanam yang Tepat: Karena lahan terbatas, gunakan campuran tanah, kompos, dan sekam bakar. Jika menggunakan hidroponik, pastikan nutrisi (AB Mix) terjaga kualitasnya.
- Manfaatkan Barang Bekas: Anda bisa menggunakan botol plastik, ember pecah, atau kaleng cat sebagai pot. Ini lebih ramah lingkungan dan hemat biaya.
- Konsistensi Penyiraman: Tanaman di pot lebih cepat kering dibanding di tanah langsung. Lakukan penyiraman rutin pada pagi atau sore hari.
Kelebihan dan Kelemahan Urban Farming
Kelebihan
Hemat Budget: Memangkas biaya belanja dapur harian.
Lebih Sehat: Hasil panen organik tanpa pestisida kimia.
Relaksasi: Menjadi sarana healing dan pereda stres.
Lingkungan: Rumah jadi sejuk dan udara lebih bersih.
Kelemahan
Modal Awal: Sistem hidroponik/akuaponik bisa cukup mahal.
Hama Kota: Risiko serangan tikus atau kutu daun.
Komitmen Waktu: Butuh perawatan dan penyiraman rutin.
Penyalahgunaan: Risiko digunakan untuk tanaman ilegal (seperti kasus AW).
Editor : Imron Hidayatullahh