Radar Jember - Memiliki ponsel dengan logo "apel kroak" kini bukan lagi sekadar impian bagi kaum mendang-mending.
Fenomena jasa sewa iPhone kini tengah menjadi tren hangat, khususnya di kalangan milenial dan kawula muda yang ingin tetap terlihat kekinian tanpa harus menguras tabungan untuk membeli unit baru yang harganya masih mencekik kantong.
Bagi sebagian orang, iPhone adalah simbol status sosial. Tak heran, jasa sewa ini laris manis karena dorongan FOMO (Fear of Missing Out) atau ketakutan akan tertinggal tren.
Baca Juga: Tiket Rp 12.500 Berlaku Perdana, Wisata Terintegrasi Papuma–Watu Ulo Diserbu Ribuan Pengunjung
Motivasi para penyewa pun beragam, mulai dari kebutuhan bisnis untuk mendapatkan kualitas foto produk yang tajam, hingga sekadar ingin terlihat keren saat nongkrong.
Potret diri di depan kaca atau mirror selfie menjadi alasan klasik. Mulai dari pantulan kaca kamar hotel yang estetik, cermin toilet yang glow up, hingga ruang ganti mall, iPhone menjadi aksesori wajib untuk menunjang penampilan di media sosial.
"Kalau aku sih memang udah lama jadi user iphone, buat selfie-selfie aja," aku Pricilla Siska, salah satu user I-Phone 15 Pro.
Di pasaran, harga iPhone terbaru memang masih tergolong barang mewah yang sulit dijangkau rata-rata kantong pekerja muda.
Meski bagi para "Sultan" harga puluhan juta bukan masalah, bagi kaum mendang-mending, menyewa menjadi solusi logis.
Dengan merogoh kocek mulai dari puluhan hingga ratusan ribu rupiah per hari, mereka sudah bisa menenteng ponsel flagship tersebut ke tongkrongan. "Aku ada kok temen yang biasanya sewa, katanya buat bikin konten, tapi juga dibawa nongkrong juga," imbuh salah satu pelajar putih Abu-Abu asal Jember itu.
Namun, di balik tren tersebut, tidak semua motivasi penyewaan didasari oleh gengsi semata. Beberapa pengguna mengaku menyewa iPhone untuk keperluan profesional, seperti pembuatan konten video pendek yang membutuhkan stabilisasi kamera tinggi.
Baca Juga: Surat Perpisahan Pilu Bocah SD di Ngada NTT Sebelum Berpulang: Mama, Relakan Saya Pergi
Kemudian untuk keperluan dokumentasi acara penting agar hasilnya terlihat sinematik, hingga uji coba perangkat sebelum memutuskan untuk menabung dan membelinya di masa depan.
Azis Setiawan, salah satu penjual handphone di Jember menilai fenomena sewa iphone itu membuktikan bahwa di era digital saat ini, tampilan visual sering kali dianggap sebagai investasi, meski hanya bertahan selama masa sewa 24 jam.
Ia memprediksi, meski harga ponsel ini cukup merogoh kantong dibandingkan ponsel kebanyakan, pasarnya akan tetap tinggi seiring tingginya penggunaan media sosial dalam berbagai keperluan.
"Biasanya kalau mendekati hari besar, seperti lebaran, pasti banyak orang yang rela menyewa iphone demi terlihat keren, mapan, atau apa lah. Karena handphone ini (iphone) sebenarnya bukan menjual fungsi, tapi menjual kemewahan dan kemapanan yang disematkan kepada penggunaannya," jelasnya.
Editor : M. Ainul Budi