RADAR JEMBER — Bagi para pecinta alam dan pendaki pemula, Gunung Prau menjadi salah satu destinasi favorit yang tak pernah sepi dari kunjungan.
Terletak di antara Kabupaten Wonosobo dan Batang, gunung ini dikenal dengan pemandangan sunrise terbaik di Pulau Jawa.
Dari puncaknya, wisatawan bisa menyaksikan siluet megah Gunung Sindoro, Sumbing, Merbabu, hingga Merapi yang berdiri gagah di kejauhan.
Gunung Prau memiliki ketinggian sekitar 2.565 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan dikenal dengan jalur pendakiannya yang relatif mudah dibandingkan gunung-gunung lain di Jawa Tengah.
Tak heran, banyak pendaki pemula memilih Prau sebagai tempat untuk menimba pengalaman pertama mereka menaklukkan puncak gunung. Jalur favorit biasanya dimulai dari Desa Patak Banteng, di mana pendaki hanya membutuhkan waktu sekitar 2–3 jam untuk mencapai puncak.
Salah satu daya tarik utama Gunung Prau adalah padang savana luas yang ditumbuhi bunga edelweis dan rerumputan hijau yang bergoyang tertiup angin.
Di malam hari, langitnya yang bersih dari polusi cahaya menghadirkan ribuan bintang yang tampak begitu dekat, menciptakan suasana romantis dan menenangkan.
Saat fajar tiba, warna jingga keemasan perlahan muncul di ufuk timur, menjadikan momen matahari terbit di puncak Prau sebagai pengalaman yang tak terlupakan.
Namun di balik keindahan alamnya, Gunung Prau juga memiliki nuansa mistis yang kerap diceritakan oleh warga sekitar. Konon, nama “Prau” berasal dari bentuk puncaknya yang menyerupai perahu terbalik, dan banyak pendaki yang mengaku merasakan aura tenang namun misterius di sepanjang perjalanan.
Meski begitu, suasana damai dan panorama alam yang menakjubkan membuat siapa pun mudah jatuh cinta pada gunung ini.
Pemerintah daerah dan komunitas pendaki setempat terus mengimbau agar wisatawan menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Jalur pendakian kini telah dilengkapi dengan pos keamanan, papan petunjuk, serta tempat pembuangan sampah untuk mendukung wisata alam berkelanjutan.
Gunung Prau bukan hanya sekadar tempat mendaki ia adalah simbol kedamaian dan keindahan alam Jawa Tengah yang memadukan tantangan ringan dengan panorama yang luar biasa.
Tak heran jika setiap akhir pekan, ratusan tenda berwarna-warni menghiasi puncaknya, menjadi saksi bisu bagi para pendaki yang datang untuk menemukan ketenangan di atas awan.
Penulis: Yasmin Alia Zuhriasa
Editor : M. Ainul Budi