Radar Jember – Di tengah gempuran 10-step skincare dan tren beauty barat yang rumit, perempuan Indonesia mulai kembali ke rutinitas minimalis, yang justru lebih menyayangi kulit dan jiwa.
Konsep ini menekankan pada penggunaan produk yang esensial dan cocok, bukan banyak dan mahal.
Cukup dengan tiga tahap dasar ; Cleanser, moisturizer, dan sunscreen. Kulit bisa tetap sehat tanpa stres tambahan akibat over-layering.
Banyak dermatologis menyebut tren ini sebagai ‘skin fasting’ modern, yang membebaskan kulit dari beban bahan aktif berlebih.
Bahkan, banyak kulit sensitif justru membaik setelah menjalani pola skincare sederhana selama 3 bulan.
Perempuan yang memilih jalur minimalis tidak sedang menyerah dari tren, melainkan sedang membuat keputusan sadar bahwa tidak semua tren harus diikuti.
Ia memilih yang cocok, bukan yang viral.
Dari segi psikologis, rutinitas skincare minimalis juga membantu menurunkan stres.
Alih-alih terburu-buru mengaplikasikan 7 produk sebelum tidur, kini waktu malam digunakan untuk refleksi, membaca buku, atau sekadar menarik napas.
Skincare menjadi ritual privat, bukan lagi kompetisi.
Hal ini menciptakan ruang bagi perempuan untuk menyatu dengan dirinya sendiri, bukan dengan algoritma sosial media.
Itulah mengapa, tren minimalis ini disebut sebagai bentuk perlawanan diam-diam terhadap tekanan sosial yang terlalu mengagungkan estetika.
Penulis: Shafa Azzahra
Editor : M. Ainul Budi