Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Rerata Penderita Flu Singapura dengan Gejala Ringan, Terberat Pneumonia hingga Ensefalitis, BEGINI PENJELASANNYA

Radar Digital • Selasa, 4 Juni 2024 | 01:10 WIB
Caption : Setelai badai pandemi Covid-19 kini semakin meredah dan orang menjalani hidup normal, kini muncul virus Hendra dan menjadi ancaman baru manusia karena lebih mematikan dari Covid-19. (Telle report)
Caption : Setelai badai pandemi Covid-19 kini semakin meredah dan orang menjalani hidup normal, kini muncul virus Hendra dan menjadi ancaman baru manusia karena lebih mematikan dari Covid-19. (Telle report)

PATRANG, Radar Jember - Kasus flu Singapura atau hand, mouth, and foot disease (HMFD) masih menjadi perbincangan di tengah masyarakat.

Penyakit ini memang tidak mematikan. Namun, tingkat penularannya cukup pesat. Bahkan tercatat ada ratusan penderita di Jember. Namun, kondisinya sudah mulai membaik.

Flu Singapura yang disebabkan oleh virus enterovirus dan coxsackievirus biasanya menyerang anak dengan usia di bawah sepuluh tahun.

Bahkan, dari ratusan kasus yang ditemukan, penderitanya rata-rata berusia kurang dari lima tahun. Walau demikian, HMFD juga dapat menyerang orang dewasa.

Dokter spesialis anak RSD dr Soebandi, dr Nurul Ima Suciwiyati SpA, menyampaikan, pada umumnya gejala yang dirasakan oleh penderita flu Singapura tergolong ringan.

Namun, mereka juga dapat merasakan gejala berat, meski persentasenya cukup kecil.

“Gejala beratnya dapat terjadi peradangan otak (ensefalitis) dan pneumonia atau peradangan pada paru,” jelasnya.

Sementara itu, dampak flu Singapura yang paling banyak dijumpai adalah menurunnya nafsu makan, demam, nyeri ketika menelan, malaise atau perasaan lelah dan tidak nyaman. Muncul lesi di mulut atau tenggorokan, telapak tangan kaki, serta bokong, atau bisa seluruh badan.

Perempuan yang akrab disapa dr Uci ini juga menyebut, Flu Singapura dapat menular terutama melalui sekret/cairan hidung (ingus), ludah, dahak, lesi kulit yang pecah, kontak erat, bersin/batuk, kontak dengan objek atau permukaan yang tercemar virus enterovirus.

Langkah pencegahan yang dapat dilakukan adalah memastikan prilaku hidup bersih dan sehat. Selain itu, tidak membuang ludah sembarangan, tidak menyentuh mulut dan mata, menutup hidung dan mulut saat batuk dan bersin. Serta mencuci tangan dan memakai masker jika diperlukan.

Jika ditemukan anak dengan gejala demam berkelanjutan dan penurunan nafsu makan, maka harus segera dilakukan pemeriksaan di fasilitas kesehatan yang ada. Biasanya penanganan umumnya bersifat simptomatik atau sesuai gejala. Namun, paling penting adalah mencegah terjadinya kejang demam. Menurutnya, 78 persen penderita flu Singapura terjadi demam tinggi.

“Pastikan penderita tidak mengalami dehidrasi, karena 83 persen penderita flu Singapura terjadi nafsu makan menurun dan nyeri menelan,” pungkasnya. (ham/c2/dwi)

Editor : Radar Digital
#Jember #flu singapura