BACA JUGA : Segera Bongkar Ruko Jompo!
Ketua Umum Pengkot POBSI Mojokerto, Bagus Majoki mengakui, melesetnya target raihan emas tak lepas kesalahannya dalam memprediksi pertandingan. kesalahan itu dipengaruhi oleh perubahan sistem pertandingan dari porprov sebelumnya. Di mana, untuk bisa lolos ke babak selanjutnya di Porprov tahun ini, setiap pebiliar hanya butuh poin tertinggi dari tiga laga yang dijalani.
Sementara di porprov sebelumnya, kelolosan setiap pebiliar ditentukan berdasarkan kemenangan tertinggi dari empat laga di setiap tahapan. Sistem tersebut yang dinilai cukup menguntungkan pebiliar pendatang baru. Di mana, mereka tidak perlu mengatur ritme pertandingan, cukup bermain lepas alias nothing to lose sehingga banyak mendapat poin ketimbang lawannya. Hal ini yang berbanding terbalik dengan pebiliar andalan.
’’Banyak pebiliar kelas atas yang tumbang di awal-awal babak. Seperti pebiliar utama Sidoarjo yang justru dikalahkan atlet Kabupaten Malang. Sekarang persentasenya 70 persen skill, 30 persen faktor luck,’’ terang Bagus. Termasuk empat pebiliar anak asuhnya, mulai dari Arya, Taufik, Fhilie, dan Akhzal yang dari awal digadang-gadang mampu menembus minimal babak semifinal.
Akan tetapi, diluar dugaan, capaian tertinggi mereka justru hanya sampai di babak 8 besar, yakni ketika arya turun di nomor single ball 10 putra. Sementara lainnya hanya mampu sampai di babak 16 besar, baik saat turun di nomor single ball 8 dan 10, maupun double ball 8 dan 10. ’’Kami hanya punya satu kesempatan turun dan sudah kami siapkan yang terbaik di nomor single dan double ball 9 besok (hari ini, Red),’’ tegas Bagus.
Hingga saat ini, biliar yang digadang-gadang mampu meraih minimal 2 medali emas hanya mampu meraih sekeping emas dan sekeping perunggu. Emas disumbangkan Nurma Ulifatul saat turun di nomor single ball 10 putri. Sementara nomor double ball 10 juga diraih Nurma saat berpasangan dengan Shinta Pratidina. (*)
Editor:Winardyasto
Foto:Istimewa
Sumber Berita:Jawa Pos Radar Mojokerto Editor : Safitri