Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Manuver Cak Imin Dinilai Wajar , PKS Jember: Seperti Bernostalgia di Pemilu 1999

Radar Digital • Selasa, 5 September 2023 | 17:40 WIB

 

"Pada Pemilu 2019, suara Nasdem, PKB, dan PKS mencapai 44 persen di Jember. Jadi, masih sangat dimungkinkan Anies mendulang lumbung suara itu saat Pilpres 2024 nanti." SUDIYANTO Ketua DPD PKS Jember
"Pada Pemilu 2019, suara Nasdem, PKB, dan PKS mencapai 44 persen di Jember. Jadi, masih sangat dimungkinkan Anies mendulang lumbung suara itu saat Pilpres 2024 nanti." SUDIYANTO Ketua DPD PKS Jember

SUMBERSARI, Radar Jember - Sejumlah pimpinan partai politik di Jember merespons deklarasi Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, sebagai pasangan capres-cawapres 2024, di Surabaya, Sabtu lalu (2/9). Manuver Cak Imin juga dinilai wajar dalam dunia politik.

Kedua parpol ini di Jember menyatakan bahwa duet mantan gubernur DKI Jakarta dengan Ketua Umum DPP PKB itu bakal berdampak positif. Khususnya untuk basis pemilih di Jember. "Insyaallah, PKB dan seluruh jajaran pengurus DPP, DPW, dan DPC sampai tingkat ranting mendukung penuh kabar gembira yang kami terima ini," kata Ketua Dewan Syuro DPC PKB Jember KH Badrus Shodiq saat dikonfirmasi awak media, Sabtu lalu (2/9).

Menurutnya, deklarasi Anies-Cak Imin itu cukup mengejutkan publik. Sebab, kabar sebelumnya yang santer terdengar justru Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang digadang-gadang mendampingi Anies. "Kami sendiri juga kaget, kok tiba-tiba ada keputusan baru kayak gini," tuturnya.

 Anies Baswedan diusung sebagai capres oleh Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh, dan tergabung dalam Koalisi Perubahan untuk Persatuan yang di dalamnya juga ada Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Demokrat.

Namun, belakangan sebelum deklarasi, Demokrat yang ngebet ingin AHY mendampingi Anies, justru hengkang dari koalisi karena merasa dikhianati Partai Nasdem dan “ditikung” PKB. Bergabungnya PKB ke Koalisi Perubahan ini juga sekaligus membuat PKB hengkang dari gerbong bakal capres Prabowo Subianto dalam Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR), yang di dalamnya ada Partai Gerindra, Golkar, dan PAN.

Badrus juga menilai, ragam manuver yang dipertontonkan elite politik ke publik itu merupakan hal biasa dalam berpolitik. "Biasa sudah, dalam politik seperti ini," tutur dia.

Dia juga menambahkan, keputusan DPP itu sudah menjadi ketetapan yang mesti dipatuhi dan dijalankan oleh semua pengurus organisasi di level wilayah maupun daerah. Badrus meyakini, keputusan menduetkan Anies dengan Cak Imin ini sudah pilihan yang terbaik saat ini. "Itu sudah keputusan yang terbaik yang diambil. Karena kami yakin DPP PKB tidak akan mengambil keputusan tanpa pertimbangan dari para sesepuh, para kiai, alim ulama di Indonesia," tuturnya.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PKS Jember Sudiyanto juga merespon positif duet antara mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan alumnus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) itu.

Menurut Sudiyanto, duet PKS dan PKB seperti bernostalgia tahun 1999 silam. Saat itu sukses mendorong KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia ke-4. "Peristiwa ini seperti mengulangi dinamika politik tahun 1999 silam. Saat itu PKS dan PKB menjadi bagian penting dari poros tengah KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, sebagai presiden terpilih," ungkapnya saat dikonfirmasi, Sabtu lalu (2/9).

Dia juga menilai, hari ini PKS membersamai PKB dan Nasdem dalam Koalisi Perubahan bukan sesuatu yang baru. Sebab, kedua partai ini, PKB dan PKS, pernah sama-sama jadi poros tengah dalam percaturan politik. "Kami berkoalisi tahun 1999. Kemudian, tahun pada saat terpilihnya Presiden SBY. Saat itu koalisinya Demokrat, PKS, dan kayaknya PKB juga saat itu," beber dia.

Lebih lanjut, Sudiyanto menambahkan, di Jember, duet antara Anies dan Cak Imin diyakini mampu meraup dukungan suara yang dominan. Bahkan di Jawa Timur. "Pada Pemilu 2019, suara Nasdem, PKB, dan PKS mencapai 44 persen di Jember. Jadi, masih sangat dimungkinkan Anies mendulang lumbung suara itu saat Pilpres 2024 nanti," tambah Sudiyanto. (mau/c2/dwi)

Editor : Radar Digital
#PKS (Partai Keadilan Sejahtera) #cak imin blak-blakan