SUMBERSARI, Radar Jember – Istilah tidak ada kawan dan lawan yang abadi dalam dunia politik tetap berlaku. Ini juga mulai dipertontonkan oleh para elite politik di negeri ini. Terbaru, duet bakal capres-cawapres Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar mengubah peta politik yang sudah terbangun dalam beberapa bulan terakhir. Konstelasi politik nasional ini pun berdampak hingga ke grassroots.
Seperti diketahui, kubu bakal capres Prabowo sudah sejak lama bersama Ketua Umum (Ketum) PKB Muhaimin Iskandar. Sementara, di kubu bakal capres Anies juga ada Partai Demokrat. Nah, duet bakal capres-cawapres Anies dan Cak Imin ini membuat Partai Demokrat di pusat maupun di Jember meradang. Demikian pula, ini berdampak pada kubu capres Prabowo karena PKB harus ke Anies.
Menyikapi keputusan DPP Partai Nasdem dan PKB yang menduetkan capres-cawapres Anies dengan Cak Imin itu, Ketua DPC Partai Demokrat Jember Tri Sandi Apriana mengaku menyayangkan keputusan Ketum Partai Nasdem Surya Paloh yang mendadak menjodohkan Anies dengan Ketum PKB itu. "Ini jelas melanggar piagam yang dibentuk Tim 8. Seakan-akan Partai Demokrat dipaksa menerima siapa pun cawapres yang ada dari Partai Nasdem," kata Tri Sandi saat ditemui di DPRD Jember, Jumat (1/9).
Kekecewaan Partai Demokrat tak terhenti di situ. Mulai kemarin, seluruh kepengurusan Partai Demokrat di semua level, wilayah, cabang, sampai ranting, diminta mencopot baliho bergambar Anies Baswedan yang dipajang bersama Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). "Partai Demokrat sudah sepakat mencabut dukungan untuk Pak Anies, dan seluruh atribut yang ada gambar Pak Anies bersama Ketum AHY, di Jember, kami selesaikan (dicabut/diturunkan, Red)," tegasnya.
Tri Sandi juga menyentil sikap pimpinan Partai Nasdem yang mengkhianati kesepakatan dan tidak menganggap pimpinan parpol lainnya yang tergabung dalam Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP), yang di dalamnya juga termasuk ada PKS. Tak hanya Surya Paloh, di kancah nasional hingga di daerah, Anies juga disentil oleh Partai Demokrat. Dalam beberapa kesempatan, Anies sempat menghendaki AHY mendampingi sebagai cawapres pada Pilpres 2024, sebagaimana foto yang viral di berbagai media sosial.
Terlebih, sejak awal, partai besutan Presiden RI ke-5 Susilo Bambang Yudhoyono ini memang menghendaki AHY diduetkan dengan Anies. Namun, karena merasa ditikung oleh PKB dan dikhianati oleh Partai Nasdem, Demokrat akhirnya tak tahan dan bermanuver dengan menarik dukungannya. "Demokrat tidak diajak bicara (pengusungan bakal cawapres Cak Imin, Red), termasuk PKS. Jadi, Nasdem benar-benar sepihak," jelasnya.
Tri Sandi menambahkan, sejak kemarin, kelanjutan Partai Demokrat dalam Koalisi Perubahan juga dibahas oleh majelis tinggi masing-masing partai. "Kami taat kepada struktur partai, siapa pun yang mendukung pencapresan bersama Ketum AHY, itu yang kami dukung," pungkas politikus yang juga anggota Komisi A DPRD Jember itu. (mau/c2/nur)
Editor : Safitri