KURIKULUM pendidikan kerap berubah-ubah. Walau demi perubahan, hal ini tak pelak membuat murid dan guru kewalahan dalam beradaptasi. Hal itu juga dirasakan oleh institusi pendidikan di Jember.
Bacaleg DPRD Jember Virginia Fitrizenko mengatakan, sistem pendidikan di Jember sepenuhnya telah mengikuti kebijakan pemerintah pusat. Namun, kebijakan yang sering berubah akhirnya membuat siswa bingung. Misalnya dari K-13 menjadi Merdeka Belajar. “Belum selesai kebijakan yang lalu, ada yang baru. Harus adaptasi lagi,” tuturnya.
Guru matematika di salah satu SMP swasta itu mengakui ada makna perubahan di balik pergantian kurikulum. Tapi, menurutnya, hal tersebut masih perlu dibenahi. Dia mengatakan, akan lebih baik melanjutkan kebijakan yang lama dengan beberapa perbaikan. Dibandingkan menyajikan kurikulum baru yang membuat siswa dan guru harus adaptasi lagi.
Penerapan kurikulum saat ini menjadikan pemerintah daerah memiliki pekerjaan rumah dalam memberikan pelatihan pada guru. Menurutnya, pemkab harus melek informasi dan tidak serta-merta langsung menerapkan. “Perlu bimtek, penyuluhan, atau sosialisasi Kurikulum Merdeka (kepada guru, Red) agar tidak buta dari awal,” ucap politisi Partai Demokrat itu.
Menurutnya, guru memerlukan banyak pelatihan secara berkala dan berkelanjutan untuk mendapatkan arahan. Selama ini, bimtek yang diberikan tidak menyasar seluruh tenaga pendidik. Undangan hanya berupa perwakilan dari masing-masing sekolah. “Kadang guru yang mengikuti bimtek bukan ranahnya, jadi salah sasaran,” imbuh Virgin.
Perempuan 23 tahun asal Kelurahan Kebonsari itu mengungkapkan keseriusannya untuk terjun ke dunia politik mewakili suara anak muda. Dia menuturkan, anak muda lebih peka terhadap isu yang sedang berkembang di masyarakat. Hal-hal kecil yang jarang diketahui kebanyakan kalangan terkadang sudah sampai terlebih dulu ke telinga anak muda. Dengan mengetahui berbagai permasalahan di lapangan, kemudian akan diimplementasikan pada suatu kebijakan.
Terlepas dari itu, Virgin meyakini, memaksimalkan regulasi yang ada akan lebih bijak dibandingkan muluk-muluk membuat-buat kebijakan yang baru. Berkolaborasi dengan berbagai kelompok masyarakat muda, kemudian secara konsisten mengimplementasikan kebijakan yang sudah ada. (sil/c2/nur)
Editor : Radar Digital