Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Corporate Farming Jadi Harapan Baru, Mampukah Bawa Pertanian Jember Naik Kelas?

Sidkin • Sabtu, 27 September 2025 | 13:15 WIB
WAKTUNYA NAIK KELAS: Salah satu petani mengoperasikan traktor di lahan persawahan di Kranjingan, Sumbersari.
WAKTUNYA NAIK KELAS: Salah satu petani mengoperasikan traktor di lahan persawahan di Kranjingan, Sumbersari.

 

Radar Jember – Jember dikenal sebagai salah satu lumbung pangan terbesar di Jawa Timur.

Potensi agrarisnya melimpah, mulai dari padi, jagung, hingga komoditas perkebunan seperti kopi dan tembakau.

Wilayah yang luas serta mayoritas masyarakat bergantung pada sektor pertanian membuat Jember punya peluang besar menjadi daerah percontohan pengembangan pertanian modern.

Namun, potensi besar itu perlu diolah dengan pendekatan yang lebih terstruktur.

Salah satu gagasan yang kini mengemuka adalah penerapan corporate farming.

Ini jadi tantangan agar pertanian Jember bisa naik kelas.

Ketua PC Kopri PMII Jember, Isna Asaroh, dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan DPRD menegaskan pentingnya optimalisasi sektor pertanian.

Menurutnya, Jember membutuhkan sistem yang bisa menyatukan potensi petani kecil ke dalam sebuah model bisnis pertanian terpadu.

Corporate farming, kata dia, jadi solusi yang tepat agar pertanian Jember makin baik ke depannya.

“Kami mendorong adanya penerapan corporate farming untuk meningkatkan efisiensi produksi dan daya saing petani,” ujarnya.

Konsep ini dinilai sejalan dengan visi swasembada pangan dan peningkatan kesejahteraan petani.

Selain itu, corporate farming memungkinkan daerah sentra komoditas di Jember, seperti Panti untuk kopi dan Ambulu untuk perikanan, berkembang lebih maksimal.

Secara sederhana, corporate farming merupakan pola pengelolaan pertanian yang dilakukan secara kolektif.

Petani yang tergabung dalam kelompok tani (poktan) atau gabungan kelompok tani (gapoktan) dikelola dengan satu manajemen yang profesional.

Kuncinya terletak pada kolaborasi dan manajemen modern.

Melalui pola ini, produktivitas bisa meningkat dan akses pasar lebih terbuka.

Namun, penerapan corporate farming di Jember bukan tanpa tantangan.

Sebagian besar luasan lahan pertanian tergolong kecil.

Dalam satu wilayah, komoditas yang ditanam pun tidak selalu sama.

Sehingga sulit dikelola secara serentak.

Selain itu, literasi digital dan pengetahuan modern di kalangan petani juga masih terbatas.

Kondisi ini membuat pendampingan dan pelatihan menjadi hal yang mutlak dilakukan.

“Maka, petani harus didampingi agar bisa bertransformasi dari pola tradisional menuju pertanian modern,” tegasnya.

Wakil Ketua DPRD Jember Widarto, menyambut baik gagasan corporate farming yang didorong mahasiswa.

Ia menilai, jika dilakukan serius, konsep ini akan membawa dampak besar bagi pertanian Jember.

“Kami di DPRD sepakat bahwa corporate farming harus mulai dijalankan, meskipun tantangannya berat,” kata Widarto.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan penyuluh pertanian lapangan (PPL) yang harus dimaksimalkan.

Selain itu, pemerintah juga harus hadir. Itu bisa melalui pemberian insentif yang dibutuhkan untuk menggerakkan petani.

Lebih jauh, Widarto menilai bahwa kelompok tani dan gapoktan perlu direvitalisasi.

Ia juga menekankan pentingnya menata kembali fungsi kelompok tani agar lebih fokus pada pengembangan pertanian.

Selama ini, kelembagaan petani terkadang masih diwarnai kepentingan di luar sektor pertanian.

“Kelompok tani harus benar-benar dihuni orang yang paham pertanian,” pungkasnya. (kin/nur)

 

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #farming #Corporate #Pertanian Jember #DPRD jember