Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Harga Tomat Anjlok Jadi Rp 500, Petani di Jember Enggan Melakukan Panen 

Radar Digital • Selasa, 26 September 2023 | 18:20 WIB
MELIMPAH: Tanaman tomat dibiarkan oleh petani lantaran harganya anjlok.
MELIMPAH: Tanaman tomat dibiarkan oleh petani lantaran harganya anjlok.

SUKOWONO, Radar Jember – Harga tomat di tingkat petani saat ini sedang anjlok. Bahkan, lebih mahal membayar parkir daripada harga tomat per kilogram. Hal itulah yang membuat petani tomat mulai enggan untuk melakukan panen.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Jember, petani menjual tomatnya dengan harga lima ratus hingga seribu rupiah per kilogram. Jika dibandingkan dengan tarif parkir umum Rp 2 ribu, tentunya harga tomat jauh lebih murah. Sementara, di tingkat konsumen yang merujuk pada Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jatim, harga tomat per kilogram masih Rp 5 ribu.

Petani hortikultura di Desa Arjasa, Kecamatan Arjasa, Sayudi, mengatakan, salah satu penyebab menurunnya harga tomat adalah tingginya angka produksi. Sebab, petani tomat melakukan panen secara bersamaan. Hal tersebut biasa terjadi ketika jumlah tomat di pasaran melebihi permintaan. “Jika harganya normal, maka biasanya mencapai Rp 6 ribu per kilogram di tingkat petani,” ucapnya.

Dia juga mengatakan, kejadian tersebut tentu merugikan para petani, karena dapat dipastikan tidak mampu mengembalikan modal awal yang dikeluarkan untuk biaya produksi. Agar modal petani tomat kembali atau break even poin (BEP), maka harga jual minimal Rp 3 ribu per kilogram. “Petani kan maunya untung, bukan buntung,” imbuhnya.

Sayudi juga menilai, salah satu solusi untuk menanggulangi anjloknya harga tomat adalah membuat berbagai produk olahan dengan bahan dasar tomat. Misalnya saus, sambal, dan sebagainya. Hal tersebut dinilai mampu menaikkan pendapatan para petani. Walaupun membutuhkan waktu yang lebih lama dan tenaga yang lebih untuk mengolahnya.

Lebih lanjut, dia juga mengaku khawatir dengan harga pangan dan tanaman hortikultura yang sering anjlok dapat berdampak pada regenerasi petani. Sebab, generasi muda takut untuk bertani akibat harga dan pasar penjualannya yang belum jelas. Oleh sebab itu, dia berharap ada pengalihan subsidi pada hasil panen. “Jika ini dilakukan, maka petani tidak akan waswas lagi,” tuturnya.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua BPO HKTI Jember Jumantoro membenarkan harga tomat dari petani saat ini memang anjlok. Menurutnya, petani saat ini sengsara karena tingginya angka produksi tidak diimbangi dengan daya beli masyarakat. “Banyak petani menangis akibat harga tomat yang sekarang,” pungkasnya.

Sementara itu, Aprilia Putri, warga Karangrejo, Sumbersari, mengaku, di tingkat pengecer, harga tomat yang turun tidak begitu dirasakan oleh konsumen. “Saya jadi pembeli tidak begitu tahu kalau tomat itu harganya jatuh. Beli tomat Rp 2 ribu ke tukang sayur keliling dapatnya sama,” tuturnya. (ham/c2/dwi)

 (ham)

Editor : Radar Digital
#harga anjlok #panen tomat