Keunggulan yang ditawarkan benih hibrida pada tanaman pangan membuat banyak petani kepincut. Namun, ketahanan benih lokal harus tetap dikembangkan agar tidak hilang dari bumi Jember.
BENIH hibrida pada tanaman pangan seperti padi atau yang lainnya sudah tidak asing lagi di pasaran. Mayoritas petani juga lebih memilih benih hibrida untuk bibit tanamannya. Saat ini, mencari bahkan mengetahui jenis tanaman varietas lokal, khususnya di Jember, sudah semakin sulit.
Dosen Prodi Teknik Produksi Benih Politeknik Negeri Jember (Polije), Leli Kurniasari, mengatakan, benih hibrida didapatkan dari proses persilangan antara tetua jantan dan betina yang memiliki keunggulan. Hasil persilangan tersebut menjadi varietas baru. Biasanya keunggulan yang dihasilkan bisa berproduktivitas tinggi, tahan terhadap hama penyakit tertentu atau cekaman seperti kekeringan, kemasaman, dan salinitas.
Tetua yang digunakan bisa juga dari benih varietas lokal daerah tertentu yang sudah diketahui sifat unggulnya. Ihwal tersebut, para petani menjadi bergantung pada penggunaan benih hibrida. Terutama tanaman pangan. Berbagai keunggulan yang ditawarkan membuat petani lebih suka menggunakan benih hibrida. Padahal, benih lokal menjadi salah satu ciri khas suatu daerah yang perlu dikembangkan.
Benih lokal, kata dia, asalnya turun-temurun sejak dulu. Berbeda dengan benih hibrida, tanaman dari benih lokal bisa digunakan kembali menjadi benih pada musim tanam selanjutnya. “Jika benih hibrida yang terus dipakai, plasma nutfah dari varietas lokal lama-lama bisa terkikis dan musnah,” papar dosen jurusan produksi pertanian itu.
Tidak ada ceritanya hasil panen dari benih hibrida dipakai kembali untuk bahan tanam lagi. Sebab, hasilnya dipastikan tidak akan bagus seperti yang pertama. Secara ilmu genetika, terang Leli, gen dari varietas tersebut akan menunjukkan karakternya masing-masing. Sifat resesif atau kelemahannya akan terlihat. Misalnya tidak tahan hama penyakit dan produktivitasnya jadi rendah. “Tergantung karakter yang keluar di lapangan,” tuturnya.
Dengan segala keunggulan dan kelemahannya, tidak ada salahnya membudidayakan tanaman dari benih hibrida. Namun, varietas lokal harus tetap dipertahankan menjadi sumber kekayaan genetik. Menurutnya, ini adalah tugas dinas terkait sebagai pemilik wewenang untuk melakukan konservasi.
Begitu juga peran dari akademisi dan peneliti untuk mengembangkan varietas lokal agar tetap ada sebagai ciri khas suatu daerah. Perempuan asal Bandar Lampung itu menyebutkan, untuk mengembangkan varietas lokal perlu diteliti lebih jauh terkait karakter secara genetis, fisiologis, hingga agronomisnya.
Ini agar bisa diketahui cara menghadapi iklim global yang bisa menimbulkan cekaman bagi varietas lokal saat ditanam. Agar diketahui pula cara budi daya yang tepat dan bisa memperbaiki sifatnya. “Misalnya disisipi gen-gen tertentu menjadi produk rekayasa genetika (PRG),” jelas Leli. (c2/nur)
Editor : Radar Digital