JEMBER, RADARJEMBER.ID- Antusiasme petani Jember menanam tembakau di tahun ini memang meningkat. Namun, hujan deras selama tiga hari di awal bulan ini menjadi ujian bagi mereka. Sedikitnya 3,2 ribu hektare tanaman tembakau petani di tiga kecamatan rusak parah.
Hal itu di luar prediksi. Baik petani maupun Pemerintah Kabupaten Jember. Padahal pertengahan tahun ini diprediksi ada El Nino dengan dampaknya kekeringan. Akan tetapi, justru yang terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Kerusakan ribuan tembakau pun sulit ditangani.
Meski demikian, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (PTHP) Jember mengklaim telah melakukan sejumlah langkah. Di antaranya melakukan pendataan kerugian dengan melihat langsung kondisi tembakau petani di areal persawahan. “Kami sudah menginventarisasi bersama petani dengan turun langsung ke lapangan. Memang hujannya cukup deras. Akibatnya, drainase tidak bisa membuang airnya,” terang Kepala Dinas TPHP Jember Imam Sudarmaji.
Imam mengatakan, kejadian tersebut di luar kontrol. Apalagi, cuaca ekstrem terjadi secara mendadak. Hal itu menyebabkan banyak lahan tembakau milik petani yang rusak. Kondisi ini dianggap sebagai force majeure. Oleh karena itu, setelah tanaman tembakau terendam, pihaknya langsung melaporkannya ke pemerintah provinsi dan pusat. Harapannya, petani yang didominasi menanam dengan bantuan dana pinjaman itu mendapatkan relaksasi.
Dia menjelaskan, pihaknya berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember. Hal itu untuk memastikan apakah kejadian tersebut bisa disebut bencana. Sebab, jika force majeure itu tergolong bencana, maka ada sejumlah langkah yang bisa segera dilakukan. “Kalau bencana bisa cepat karena ada dampak pada manusia. Tapi, ini dampaknya di bidang pertanian. Lah, ini yang masih kita diskusikan, apakah itu masuk di darurat bencana apa tidak,” jelasnya.
Jika bisa masuk di darurat bencana, lanjut Imam, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Dia mencontohkan, langkah itu bisa pemberian bantuan melalui dana tak terduga. Baik dari pemerintah kabupaten maupun pusat. “Mungkin kita bisa menggunakan dana-dana tak terduga atau yang lainnya. Harapan kita setelah dilaporkan ke provinsi dan pusat, ada sesuatu yang bisa diberikan kepada petani karena kondisi ini,” lanjutnya.
Sementara itu, dana bagi hasil cukai tembakau (DBHCT) selama ini digunakan untuk pengembangan hasil pertanian. Itu berupa pelatihan bagi petani untuk menjaga kualitas hasil tembakau. Sebab, hasil tembakau Jember sering menjadi pilihan prioritas perusahaan. Tidak hanya dikelola dan didistribusikan di ranah lokal, tapi juga internasional.
Oleh karena itu, dalam waktu dekat, pihaknya bakal mengkaji ulang agar dana cukai tersebut bisa digunakan petani. “Kami berupaya agar dana cukai bisa segera diberikan untuk membantu petani terkait pupuknya. Harapannya bisa segera dilaksanakan karena petani masih dalam kondisi tanam kembali,” pungkasnya. (kin/c2/bud)
Editor : Alvioniza