Hal tersebut hampir terjadi setiap waktu, meski belum waktunya musim panen. Para pedagang selalu menjual buah yang memiliki bau menyengat tersebut. Ternyata, untuk memenuhi kebutuhan pembeli, mereka harus mengambil stok dari luar daerah.
Desa Suger Kidul memang memiliki banyak pohon durian. Namun, saat ini belum masuk masa panen. Bisanya panen hanya dilakukan satu kali dalam setahun, yakni pada Desember hingga Januari. Buah tersebut biasanya tumpah ruah di sepanjang jalan perbatasan dua kabupaten di Jatim itu.
Meski begitu, para pencinta buah yang dipenuhi duri ini tidak perlu khawatir. Sebab, para pedagang biasanya akan tetap menjual. Caranya dengan mengambil stok dari luar daerah. Termasuk dari Banyuwangi bahkan Pulau Dewata, Bali.
Seperti yang dilakukan oleh Ifur, salah seorang penjual durian di tempat tersebut. Menurutnya, para pedagang di sana akan mencari stok ke luar daerah. Saat belum memasuki masa panen, hal itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan para pelanggannya.
Maka tak heran jika setiap waktu tempat itu selalu dipenuhi oleh para pedagang. “Cari wes ke mana saja. Biasanya dari Banyuwangi dan Bali,” katanya.
Berbagai jenis durian, mulai dari montong hingga lokal dijual dengan harga yang beragam. Ifur mematok harga per bijinya mulai dari Rp 30 ribu hingga Rp 100 ribu lebih. Menurutnya, semakin mahal durian yang dijual, maka akan semakin enak rasa yang ditawarkan.
Harga yang dipatok memang lebih mahal jika dibandingkan dengan harga saat musim panen. “Kan ada biaya transportasi kalau ambil dari luar,” lanjutnya.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Sumiati, penjual durian lainnya. Untuk memenuhi permintaan pembeli, dia mengaku harus mencari stok durian berkualitas ke luar daerah.
Hal itu dinilai sudah biasa dilakukan oleh para pedagang di Suger Kidul. Itu membuat para pedagang selalu menjual setiap hari. “Sampai malam jualannya disini,” imbuhnya.
Selain itu, dia juga menegaskan, rata-rata para penjual adalah warga sekitar yang rumahnya terbilang cukup dekat. Oleh sebab itu, durian yang mereka jajakan tidak pernah dibawa pulang.
Meski sudah beberapa kali ada tangan jahil yang mencuri barang dagangannya. “Kalau sekarang mendingan. Kalau dulu sering hilang durian saya,” pungkasnya. (ham/c2/bud)
Editor : Radar Digital