Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Produk Pupuk Organik Jember Perlu Uji Coba pada Semua Jenis Tanah

Alvioniza • Jumat, 14 April 2023 | 19:33 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi
JEMBER, RADARJEMBER.ID- Konsep ketahanan pangan melalui pertanian organik sangat ingin digapai oleh Pemkab Jember. Rencana pembangunan pabrik pupuk organik menjadi salah satu cara menggapainya.  Namun, formulasi pupuk organik yang dibuat juga perlu diuji coba pada semua jenis tanah.

Butuh keberanian yang besar untuk mewujudkan pertanian organik di Jember. Realisasinya juga tak bisa main-main. Jauh sebelumnya, riset harus sudah dilaksanakan. Formulasi produk juga harus ditemukan. Termasuk komposisi unsur hara di dalamnya sesuai dengan karakteristik tanah di Jember yang berbeda-beda di setiap tempatnya.

Dosen Ilmu Tanah Politeknik Negeri Jember (Polije), Nantil Bambang Eko, mengutarakan, sebelum membangun pabrik pupuk, Pemkab Jember perlu merencanakan konsep produk dengan sangat matang. “Agar tidak gagal,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Jember saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (11/4) lalu.

Terpenting, kata dia, konsistensi produk pupuk juga perlu dilakukan. Menurutnya, pupuk organik tidak bisa sembarangan diproduksi tanpa mempertimbangkan kandungan unsur hara yang ada dan harus sama di setiap produk. Untuk itu, dibutuhkan sejumlah penelitian pendahuluan. Lahan-lahan percobaan atau demplot percontohan juga disediakan di berbagai kondisi lahan. “Lahan percobaan dilakukan di sentra produk pangan atau produk unggulan Jember berada,” terang Bambang.

Aplikasi pupuk organik pada berbagai jenis tanah dan komoditas tanaman adalah proses yang harus dilakukan terlebih dahulu. Sebab, setiap tanaman memerlukan dosis pupuk yang berbeda-beda. Termasuk di mana tanaman itu ditanam.

Agar pupuk organik yang diproduksi dalam jumlah besar nanti bisa efektif, kata dia, perlu membuat produk yang beragam. Karakteristiknya ditentukan sesuai peruntukan jenis tanah. Juga dilengkapi dengan komposisi dan konsentrasi unsur haranya. “Misalnya lahan untuk tanaman pangan pakai pupuk organik yang mana, sedangkan lahan sayuran juga yang mana. Agar petani punya patokan memakai pupuk organik apa,” papar pria yang juga menjabat sebagai Wakil Direktur IV Polije itu.

Dia berharap produk pupuk yang dihasilkan nantinya bisa konsisten, terutama kadar kandungannya. Tidak berubah-ubah, seperti pupuk kompos yang biasa beredar di masyarakat. Kendati demikian, Bambang meminta agar pemkab tidak serta-merta meminta petani langsung menggunakan pupuk organik seratus persen. Sebab, akan langsung menurunkan produktivitas hingga 90 persen. Hal itu akan membuat petani rugi dan enggan lagi memakai pupuk organik.

Selain memberikan contoh langsung kepada petani melalui demplot yang dibuat, petani bisa beralih ke pupuk organik secara bertahap. Dikombinasikan dengan pupuk anorganik. Dosisnya dikurangi secara bertahap. Hingga akhirnya melalui proses panjang pupuk organik bisa diaplikasikan seratus persen tanpa mengurangi hasil produksi petani. (sil/c2/dwi) Editor : Alvioniza
#Pupuk Subsidi