Kondisi itu jelas kurang menguntungkan bagi petani. Tembakau mereka terancam layu, kurang subur, hingga membusuk. "Kalau tembakaunya rusak, harganya sudah nggak karuan," keluh Hariyono, petani tembakau di desa tersebut.
Menurut dia, tanaman tembakaunya itu sudah tinggal menghitung hari untuk segera dipanen. Namun, hujan yang terus mengguyur di daerah selatan Jember menjadi ancaman nyata bagi para petani tembakau ini.
Tak hanya Hariyono, petani lainnya juga memiliki kekhawatiran yang sama. Hujan yang turun dengan intensitas ringan sejak beberapa hari kemarin sedikit banyak juga memengaruhi proses pengeringan tembakau.
Bahkan, beberapa petani terpaksa memanen lebih awal dari waktu yang semestinya. "Serba repot kami ini sebagai petani. Dipanen dulu, hasilnya belum maksimal. Tidak segera dipanen, tembakaunya terancam rusak," timpal Hafid, petani asal Ambulu.
Dengan kondisi seperti itu, para petani ini hanya bisa pasrah, dan berharap harga jual tembakau bisa terus stabil. "Petani juga tidak punya peran banyak. Tembakau-tembakau ini bisa diserap dengan harga mahal, atau normal, itu sudah mendingan," harapnya.
Reporter : Maulana
Fotografer : Maulana
Editor : Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Ivona