Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Masih Muda Sudah Dipanen

Radar Digital • Kamis, 1 April 2021 | 16:15 WIB
PANEN AWAL: Petani di Desa Sruni, Kecamatan Jenggawah, terpaksa memanen padi mereka sebelum waktunya. Ini dilakukan karena serangan hama wereng mulai mengkhawatirkan petani.
PANEN AWAL: Petani di Desa Sruni, Kecamatan Jenggawah, terpaksa memanen padi mereka sebelum waktunya. Ini dilakukan karena serangan hama wereng mulai mengkhawatirkan petani.
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Derita petani sepertinya belum berujung. Setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan pengurangan kuota pupuk bersubsidi, kali ini mereka didera dengan serangan hama. Bahkan, ada petani yang gagal panen lantaran tanaman padi mereka ludes diserang wereng. Agar tak menular ke tanaman lainnya, petani sampai membakar lahan padi tersebut.

Dampak serangan wereng itu juga memaksa petani memanen padi mereka lebih awal dari waktu seharusnya. Padi yang dipetik masih berusia muda. Kondisi seperti itu terjadi di wilayah Desa Sruni, Kecamatan Jenggawah.

Ketua Gapoktan Jaya Makmur Desa Sruni, Kecamatan Jenggawah, Muhammad Ikrom mengungkapkan, petani di daerahnya terpaksa memanen lebih awal. Luasnya mencapai puluhan hektare sawah. Hal itu disebutnya berpengaruh terhadap hasil panen yang diperoleh. Karena padi yang dipetik sebelum waktunya, kualitas dan bobotnya jauh lebih rendah. Akibatnya, juga berpengaruh terhadap harga jual.

Menurut Ikrom, harga jual gabah yang belum terserang hama masih cukup tinggi. Berkisar Rp 400 ribu per kuintal untuk gabah kering sawah (GKS). Namun, untuk tanaman padi yang mutunya kurang bagus karena diserang hama, harganya jatuh menjadi sekitar Rp 300 ribu per kuintal. “Petani memilih memanen paksa tanaman padinya yang belum cukup umur. Ketimbang menunggu waktu, tapi malah tidak panen. Sekarang ini hama memang sudah merajalela,” katanya.

Ikrom membeberkan, untuk padi jenis IR, umurnya mencapai 90 hari. Namun oleh petani, umur 80 hari sudah dipanen. Sedangkan bibit jenis Sertani umurnya hingga 120 hari, tapi sebelum mencapai waktunya, sudah dipanen lebih dulu. “Pertimbangan petani itu sederhana. Daripada tidak keduman karena terserang hama lebih dulu, lebih baik dipanen saja,” tuturnya.

Di wilayah Gapoktan Jaya Makmur, tidak ada petani yang sampai membakar lahan mereka. Sebab, para petani sudah mengantisipasi dengan melakukan penyemprotan, sehingga hama wereng tidak sampai merusak tanaman. Namun, petani memilih memanen paksa karena petani di wilayah desa lain seperti di Desa Kertonegoro, Kecamatan Jenggawah, ada yang sampai membakar tanaman padinya karena puso alias gagal panen.

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember di Desa Kertonegoro, selain petani tidak ingin wereng itu merembet ke tanaman lain, alasan mereka membakar lahan itu karena untuk menghemat biaya. Sebab, kalau lahan dibersihkan secara manual, memakan biaya cukup besar. Kalaupun akan dipanen dengan mengambil yang tersisa, gabahnya tidak bisa dijual lantaran kosong. Saat ini, para petani dan pemerintah desa setempat telah berkoordinasi dengan dinas terkait. Beberapa kelompok tani juga telah melakukan penyemprotan massal.

Berdasarkan pemetaan yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Kertonegoro, ada beberapa hal yang memengaruhi serangan wereng hingga membuat gagal panen. Di antaranya karena faktor cuaca. Sejak mulai tanaman hingga memasuki masa panen, hujan tak kunjung berhenti. “Selain itu, juga pemilihan bibit padi yang kurang tepat. Sehingga dalam waktu yang tidak lama, langsung diserang hama,” kata Farida, Kepala Desa Kertonegoro.

 

 

 

 

Jurnalis : Jumai
Fotografer : Jumai
Redaktur : Mahrus Sholih Editor : Radar Digital
#sawah #Pertanian