Mencegah terjadinya serangan penyakit yang dapat mematikan padi muda tersebut, petani di Desa Dukuhdempok, Kecamatan Wuluhan, mulai melakukan penyemprotan masal, kemarin (9/2). Jika tidak segera dikendalikan, petani khawatir gagal panen. Sebab, penyakit yang menyerang daun ini dapat berakibat bulir padi kurang berisi lantaran proses fotosintesis kurang optimal.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember, petani di desa setempat melakukan penyemprotan, khususnya di lahan padi yang memiliki gejala daun menguning. “Salah satu gejala yang bisa dilihat adalah bagian daun tanaman padi ada bintil-bintil dan membuat daun menguning hingga kering,” jelas Sumardi, pegawai UPT Proteksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian Jawa Timur di Jember.
Sebagai pengendali organisme tanaman, Sumardi mengatakan, pengendalian hama penyakit di tanaman pangan itu penting. Apalagi Jember merupakan salah satu lumbung pangan di Jatim. Sementara itu, Kecamatan Wuluhan juga lumbung pangan di Jember. “Jadi, kalau Wuluhan pertaniannya jatuh karena hama, maka Jatim juga jatuh. Karena Wuluhan ini sebagai lumbung pangan,” tuturnya.
Dia menjelaskan, pada musim seperti ini, yaitu ketika angin mulai kencang, terdapat potensi tanaman padi terserang Xanthomonas. “Saat angin kencang, membuat padi saling keras bergesekan sehingga terjadi luka. Dan luka itu yang membuat bakteri Xanthomonas mudah masuk dan menginfeksi,” jelasnya.
Akibatnya, akan merusak klorofil daun. Hal tersebut menyebabkan menurunnya kemampuan tanaman untuk melakukan fotosintesis yang apabila terjadi pada tanaman muda mengakibatkan mati. Sementara, pada tanaman fase generatif, mengakibatkan pengisian gabah menjadi kurang sempurna. Karena itu, kata dia, bila dibiarkan saja, bisa jadi produksi padi akan berkurang drastis.
Sumardi mengakui, pengendalian hama Xanthomonas lebih mudah daripada hama wereng. “Kalau sudah kena wereng itu pengendaliannya lebih susah. Tapi bila Xanthomonas dibiarkan juga mengurangi produksi,” tuturnya. Dia menambahkan, rata-rata padi yang kena Xanthomonas berada di pinggir lahan terlebih dahulu. Karena gesekan padi di tepi lahan itu lebih kuat daripada yang di dalam.
Persoalan pengendalian hama penyakit tersebut juga menjadi perhatian salah satu produsen pupuk. Yusfa Sulistyo, perwakilan produsen pupuk, menjelaskan, program yang dijalankan itu yakni melakukan pendampingan petani mulai dari pemilihan bibit, pengendalian hama penyakit, pemupukan, teknologi pertanian, asuransi, sampai ada kepastian harga di pasar, termasuk juga permodalan.
Sementara itu, Anggota DPRD Komisi B Nyoman Aribowo menambahkan, pertanian saat ini berada di posisi sulit. Bila berbicara pupuk subsidi kuotanya juga dikurangi. Belum lagi persoalan ketidakpastian harga jual yang cenderung jatuh saat panen raya tiba. Dia pun ada pemikiran bagaimana pertanian berkelanjutan tersebut juga diiringi dengan peternakan. “Jadi, petani juga jadi peternak. Karena ternak membutuhkan limbah pertanian untuk pakan, sedangkan petani butuh limbah ternak untuk pupuk organik,” pungkasnya. Editor : Radar Digital