Oleh: Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA.
Radar Jember - Gubernur Khofifah Indar Parawansa (Gubernur Khofifah) adalah gubernur pertama Jawa Timur bahkan Indonesia yang memberi peluang santri hebat melanjutkan studi Program Sarjana di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir.
Sebuah terobosan spektakuler untuk kaderisasi ulama berwawasan luas.
Santri hebat adalah santri yang memiliki kemampuan membaca kitab kuning, bahasa Arab, dan IT yang semua itu memerlukan tingkat kecerdasan tinggi.
Mereka berhasil bisa kuliah di Universitas Al-Azhar setelah berhasil berkompetisi melalui proses yang sangat selektif sehingga terpilih.
Jumlah santri hebat yang berhasil melanjutkan studi sekarang mencapai angka 123 mahasiswa program beasiswa, dengan perincian: angkatan 2021 30 mahasiswa, angkatan 2022 30 mahasiswa, angkatan 2023 30 mahasiswa, dan angkatan 2024 33 mahasiswa.
Dari 30 mahasiswa angkatan pertama, 25 mahasiswa di antaranya sudah menyelesaikan studi tepat waktu.
Dan hari-hari ini sedang proses rekrutmen program beasiswa khusus Program Magister (S-2) Universitas Al-Azhar untuk kuota 30 beasiswa.
LPPD singkatan dari Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah Provinsi Jawa Timur.
LPPD dibentuk dan di-SK oleh Gubernur Jawa Timur dengan tugas utama antara lain, melaksanakan Program Beasiswa Pemerintah Provinsi Jawa Timur, mulai sistem rekrutmen, seleksi dan yang menentukan standar termasuk besaran beasiswa.
Untuk beasiswa Program Sarjana PTKI/Ma'had Aly sebesar Rp 15.000.000 per mahasiswa, untuk Program Magister (S-2/M-2) sebesar Rp 22.500.000 per mahasiswa, dan untuk Program Doktor sebesar Rp 75.000.000 per mahasiswa.
Khusus Mahasiswa Al-Azhar ada living cost per bulan sebesar Rp 2.500.000.
Sejak 2019 sampai 2025 Pemprov Jatim melalui LPPD telah bermitra dengan 138 perguruan tinggi (118 PTKI, 19 MA dan Al-Azhar) dan telah menebar manfaat kepada sejumlah 6.876 generasi unggul yang tersebar belajar di program sarjana (S-1), program magister (S-2) dan program doktor (S-3).
Juga Program Marhalah Ula (M-1/S-1) Ma'had Aly dan Marhalah Tsaniyah (M-2/S-2) Ma'had Aly sebagai perguruan tinggi khas pesantren.
Selain itu, juga tersebar manfaatnya berkesempatan belajar di Universitas Al-Azhar untuk program sarjana dan program magister.
Ini langkah-langkah strategis dan jariyah yang sangat berdampak untuk masa depan Jawa Timur dan Indonesia.
Karena ketersediaan SDM Ahli ini sangat penting dan strategis untuk masa depan, untuk pengembangan kualitas pesantren, untuk pendidikan Islam dan sekaligus untuk pencerahan masyarakat Jawa Timur.
Problem Kerja Sama
Selama ini, kerja sama Pemprov Jatim dengan Universitas Al-Azhar seolah tanpa problem karena setiap problem insyaallah segera dicarikan solusi jika diikhtiarkan secara sungguh-sungguh.
Universitas Al-Azhar adalah perguruan tinggi kelas dunia yang bersejarah. Di dalamnya banyak orang alim yang dikenal dunia.
Sekarang Al-Azhar memiliki lebih 100 jurusan dengan jumlah mahasiswa melebihi 500.000 mahasiswa yang berasal dari berbagai belahan dunia.
Sistem seleksinya sangat ketat sehingga diperlukan syarat-syarat kompetensi keilmuan dan bahasa Arab yang kuat sebagai modal untuk belajar Islam ke sumber aslinya, yakni Alquran, hadis, dan karya intelektual yang kebanyakan berbahasa arab.
Problem yang bersifat akademis bisa diatasi secara mudah karena santri hebat dari Jatim setelah lulus seleksi diikutkan matrikulasi sehingga mereka bisa mencapai kemampuan sesuai standar minimal mahasiswa Al-Azhar.
Justru yang sulit adalah mengatasi problem nonakademis, seperti visa dan rekomendasi.
Problem visa telah membikin semua angkat tangan pertanda putus asa, karena 1.500-an mahasiswa pada tahun 2023 Gagal berangkat ke Mesir karena keterlambatan visa.
Dubes Arab Mesir untuk Indonesia Mr. Sulthan akhirnya bersilaturahmi ke Grahadi menyampaikan permasalahan dan mencarikan solusi menghadapi problem visa.
Problem rekomendasikan menjadi problem serupa dan baru selesai ketika Rektor dan Pimpinan OIAA berkunjung ke Surabaya, demikian juga dengan problem rekomendasi Menteri Agama.
Dari sangat jelas bahwa komitmen dan political will pimpinan sangat menentukan.
Saya bangga kepada Gubernur Khofifah, di tengah kami pengurus LPPD dan teman2 yang selama ini kami andalkan seperti PUSIBA atau Pusat Studi Islam dan Bahasa Arab sudah merasa tidak mampu kami tidak ditinggal, Gubernur Khofifah langsung membantu LPPD sampai problem yang kami hadapi tuntas, clear.
Ketika kami menghadapi banyak problem di Mesir, Gubernur Khofifah langsung menemui Grand Syeikh Prof Ahmad Thayib.
Ketika kami menghadapi visa Gubernur Khofifah menghibungi Mr. Sulthan sebagai Dubes Mesir di Indonesia.
Demikian pula ketika kami menemui problem rekom dari Kementerian Agama Gubernur Khofifah langsung temui Menteri Agama Gus Yaqout Kholil Qoumas.
Karena itu, ke depan LPPD akan terus berbenah dan ke depan akan memperluas konsentrasi beasiswa ke program studi bidang kedokteran dan STEM, yakni science, technology, engineering and mathematics.
Semoga ikhtiar ini memberikan banyak manfaat.
*) Penulis adalah Ketua LPPD Provinsi Jawa Timur, Wakil Ketua Umum MUI Jawa Timur dan Guru Besar UIN KHAS Jember.
Editor : Imron Hidayatullahh