Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Tradisi Literasi di Zaman Nabi SAW

Maulana Ijal • Sabtu, 15 Oktober 2022 | 03:12 WIB
Prof Dr H Abd Halim Soebahar MA
Prof Dr H Abd Halim Soebahar MA
TRADISI literasi adalah salah satu yang mesti diteladani dari kehadiran Rasulullah Muhammad SAW dalam mengembangkan sejarah peradaban bangsa ke depan. Islam lahir pada awal abad ke-7 Masehi, dan mengalami ekspansi yang sangat cepat pada masa-masa selanjutnya. Nabi Muhammad SAW mempersembahkan seluruh komitmen dan pengabdiannya kepada agama baru yang dibawanya selama 23 tahun, 13 tahun di Makkah (kota kelahirannya) dan 10 tahun di Madinah (kota beliau wafat).

Nabi SAW adalah teladan bagi perjalanan hidup kita. Begitu Nabi SAW menerima wahyu pada usia ke-40 di Gua Hira, beliau tidak lagi berkunjung kesana untuk selamanya, tetapi langsung terjun ke tengah-tengah masyarakat yang sudah sekian lama didera kezaliman dan ketidakadilan.

Nabi SAW segera mengawali upaya pemberdayaan umat di lingkungan keluarga terdekat. Kemudian, secara berangsur ke tengah publik, sehingga baik di Makkah maupun di Madinah, Islam selalu bersentuhan dengan kehidupan yang sangat dinamis dan kompetitif.

Semangat iqra yang digelorakan Alquran jelas memacu semangat literasi, kreativitas dan energi umat, meski sebelumnya, masyarakat Hijaz telah belajar membaca dan menulis kepada masyarakat Hirah, dan masyarakat Hirah belajar kepada masyarakat Himyariyin (Pederson, 1996). Yang pertama kali belajar membaca dan menulis diantara penduduk Makkah adalah Sufyan ibn Umayyah dan Abu Qais ibn Abd al-Manaf, yang keduanya belajar kepada Bisyr ibn Abd al-Malik.

Menurut Mahmud Yunus (1992: 20) kepada keduanyalah penduduk Makkah belajar membaca dan menulis, namun dengan jumlah pembelajar yang sangat terbatas. Bisa dipahami jika ketika Islam datang baru 17 laki-laki dan 5 perempuan yang pandai baca tulis dan kemudian semuanya diberi peran strategis oleh Nabi SAW.

Ke-17 orang dimaksud adalah Umar ibn al-Khattab, Ali ibn Abi Thalib, Utsman ibn ‘Affan, Abu Ubaidah ibn Jarrah, Thalhah, Yazid ibn Abu Sufyan, Abu Hudzaifah ibn Utbah, dan Hatib ibn Amr. Selain itu, juga Abu Salamah Abd al-Asad al-Makhzumi, Abdullah ibn Sa’d ibn Ash ibn Umayyah, Khalid ibn Sa’d dan saudaranya, Abdullah ibn Sa’d ibn Abu Sarh al-Amiry, serta Huwaithib ibn Abd al-‘Uzza.

Selanjutnya adalah Abu Sufyan ibn Harb, Mu’awiyah ibn Abu Sufyan, dan Juhaim ibn Salt. Sedangkan ke-5 perempuan dimaksud adalah Hafsah (istri Nabi), Ummi Kulsum bint ‘Uqbah, ‘Aisyah bint Sa’d, As-Syifa bint Abdullah al-‘Adawiyyah, dan Karimah bint al-Miqdad. Sitti ‘Aisyah dan Ummi Salamah, istri Nabi, pandai membaca tetapi tidak dapat menulis (Mursyi, 1977).



Rumah Al-Arqam ibn Abi al-Arqam di Makkah, dijadikan sebagai salah satu pusat pembinaan dan pencerahan yang berbentuk halaqah yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad SAW dan dilakukan sembunyi-sembunyi, di Makkah pula Nabi SAW pernah membebaskan tahanan setelah mereka mengajarkan baca tulis sekelompok muslim.

Kuttab, sebagai lembaga pendidikan yang telah ada dan mengalami proses islamisasi begitu Islam datang. Institusi pendidikan lain sebagai media pengembangan tradisi literasi dan tradisi intelektual adalah Masjid yang difungsikan sebagai pusat ibadah dan sekaligus pusat pendidikan. Selain itu, ada As-Shuffah dan Majlis Al-‘Ilm.

As-Shuffah, berupa pemondokan yang ada di serambi masjid. Pada masa Nabi SAW, ada 9 lembaga as-Shuffah, termasuk yang di Masjid Nabawi. Nabi SAW pernah mengangkat Ubay ibn as-Shamith sebagai guru As-Shuffah. Selain itu, Majlis Al-‘Ilm atau Majelis an-Nabi, yang juga berbentuk halaqah. Bentuk halaqah diminati karena indikasi rasa suka, kesempurnaan rasa rindu, dan besarnya semangat terhadap apa yang disampaikan oleh guru, disamping indikasi konsentrasi, keseriusan dan kesempurnaan memuliakan.

M. Alawi Al-Maliki (1984: 5-13) memberi gambaran. Menurutnya, Nabi Muhammad SAW tidak memiliki madrasah dan pesantren untuk pendidikan. Tempat beliau duduk memberikan ceramah di hadapan para sahabat sekaligus sebagai santrinya. Namun, majelis keilmuan beliau luas, umum, dan universal, laksana hujan turun di setiap tempat, memberikan manfaat kepada orang-orang khusus maupun orang-orang umum.

Posisi beliau dalam ketentaraan adalah pelatih dan pemberi nasehat yang mengobarkan hati, memberikan dukungan kepada tentara dengan ucapannya. Posisi beliau saat bepergian adalah guru petunjuk sekaligus penunjuk jalan, di rumah beliau pendidik keluarganya, di Masjid beliau guru, juru khotbah, oqodhi pemutus perkara, pemberi fatwa, dan pengatur.

Ringkas kata, Nabi Muhammad SAW sejak dini telah merintis ”tradisi literasi dan pendidikan” yang sangat strategis dan mencerahkan. Kelompok pemikir yang dikader Nabi SAW, meski hanya kelompok kecil, tetapi dengan komitmen penuh Nabi SAW, kelompok kecil ini tidak bisa diremehkan, ibaratnya sebagai think tank (tangki pemikir) yang sangat loyal, sangat militan dan berpengaruh sangat besar bagi perjalanan sejarah peradaban dan kemanusiaan ke depan.

*Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA, adalah Guru Besar Pendidikan Islam UIN KHAS Jember, Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Timur, Ketua LPPD Provinsi Jawa Timur dan Pengasuh Pesantren Shofa Marwa Jember.

Editor : Maulana Ijal
#Jember